#3 RESNOV



Judul buku     : Hati Kedua

Penulis            : Achi TM

Penerbit          : Sheila

Terbit              : -, 2013

Tebal buku    : xiv + 338 hlm

ISBN                 : 978 – 979 -  29 – 2099 – 4



Sosok Rara digambarkan termasuk siswi yang rajin dan tidak pandai bergaul. Sedikit hal yang membuat ia berbeda adalah hobinya yang main game dan suka mengulik barang-barang elektronik. Makanya Rara paling senang ketika ia bisa membantu orang-orang memperbaiki barang-barang elektroniknya yang rusak. 


Rara juga mengalami sakit kepala yang lumayan sudah lama ia rasakan. Setiap kali ia tanya pada mama dan papa mengenai sakitnya itu, kedua orangtuanya selalu bilang kalau itu sakit kepala biasa. Rara tidak bisa mengorek informasi dokter yang menanganinya lantaran papa mendatangkan dokternya ke rumah. Sampai suatu hari, mamanya membereskan semua alat-alat yang menjadi hobinya dalam satu kardus dan membuangnya pada tukang loak. Rara merasa dipisahkan dari hidupnya. Di hari itu juga ia mendapati kenyataan soal penyakitnya. Ternyata bukan sakit kepala biasa melainkan tumor otak. Rara terpuruk.



Papa dan mama merencanakan membawa Rara melakukan operasi di Singapura di detik-detik ia harus mengikuti Ebtanas. Rara menolak karena ia ingin mati setelah setidaknya lulus SMP. Ia kabur dari rumah. Dan di taman Rara bertemu dengan seorang gadis SMA yang ternyata mengalami nasib sama. Sama-sama sakit tumor dan sama-sama tidak akan hidup lama. Dia bernama Aisyah Syifaulia, panggilannya Syifa.


Perkenalan Rara dengan Syifa tidak lama. Syifa meninggal pada jam sembilan malam tanggal 13 Mei 1997. Kepergian Syifa menjadi pukulan berat buat Rara. Saat ia punya seorang kakak sekaligus sahabat terbaik lagi namun itu tidak berumur lama. Semuanya berubah semeninggal Syifa. Yang tertinggal dari Kak Syifa hanya kalimat-kalimat semangat dan cerita tentang sepupunya yang mahir main game.


Rara akhirnya lulus SMP. Ia memang tidak bisa masuk ke SMA 80 karena NEM-nya kurang dari standar sekolah tersebut. Rara akhirnya masuk ke SMA 67. Ia kembali satu sekolah dengan teman SMP-nya, Niki. Dan di sekolahnya yang baru ini, Rara bertemu dengan cowok yang tunanetra bernama Eko Ramaditya Adikara. Pertemuan pertamanya dengan Rama, Rara menyimpan banyak tanda tanya tentang cowok itu. Ia pun diam-diam mengamati Rama. Dan ternyata Rama ini memiliki cerita yang berhubungan dengan Kak Syifa.


Dari Rama, Rara belajar banyak hal. Semangat, ketulusan dan keceriaan yang dibawa Rama menular juga pada Rara yang di awal masuk SMA sudah memantapkan hati untuk tidak terlalu dekat dengan siapapun. Rama merubah pikirian Rara. Ia pun perlahan-lahan menyukai Rama. Dan seiring waktu, Rara mulai mengerti arti gejolak cemburu ketika melihat Rama dekat atau membantu cewek lain meskipun cewek itu temannya sendiri.


Kekaguman Rara pada Rama bertambah seiring waktu yang berlalu. Rama memiliki nilai plus yang bagi Rara sangat istimewa. Di dalam keterbatasan yang ada, Rama tidak pernah mengeluh. Ia justru selalu semangat untuk bisa melakukan banyak hal karena baginya kebutaan tidak boleh menghalangi prestasi.


Rara akhirnya mantap menyematkan Rama sebagai hati keduanya. Dan lebih menyenangkannya lagi, Rama pun memiliki perasaan yang sama, yang ia katakan saat memberikan kata-kata sewaktu menjadi juara di lomba pidato bahasa inggris. Rara sebagai pemilik sapu tangan sangat terharu.
-------------------------------------------------------------------------------------

Senang sekali rasanya bisa menyelesaikan membaca novel ini dalam waktu singkat. Ternyata kalau sudah niat, semua bisa terjadi. Sesuai postingan sebelumnya, ada tiga novel yang jadi target untuk gue lahap dan gue resensi di blog ini. Judulnya silakan lihat di postingan sebelumnya.  Dan prestasinya, ya resensi ini. Hehehe.

Secara keseluruhan novel ini sangat ringan dan menarik. Gue bahkan hampir terpancing untuk meneteskan air mata pada beberapa bagian terutama saat Rara merasa terpuruk dengan penyakit tumor yang ia derita. Mbak Achi benar-benar hebat mempertahankan karakter Rara yang kadang sangat lemah dan di lain waktu ia sangat kuat. Padahal agak sulit mempertahankan karakter pada sosok tokoh dalam sebuah novel ketika tokoh tersebut harus mengalami banyak situasi. Dan Mbak Achi sukses melewatinya sehingga novel ini sukses menyuguhkan sosok seorang Rara.

Saat membaca novel ini, gue sempat membandingkan dengan novelnya Mbak Agnes Davonar, Surat Kecil Untuk Tuhan. Ada kesamaan di antara kedua novel ini. Tokohnya seorang gadis, memiliki penyakit ganas, perjuangan antara penyakitnya dan sekolah, bertemu cinta pertama dan tentunya pesan dalam novel yang mengajak pembaca untuk tidak kalah dengan keadaan seberat apapun keadaan itu. Kalau ditanya bagusan mana, gue tidak bisa jawab. Toh, namanya juga karya. Ada kekurangan dan kelebihannya. Yang pasti setiap novel sudah diupayakan dilahirkan serapi mungkin hingga nyaman dinikmati pembacanya.

Satu perhatian yang menggugah minat gue yaitu kehadiran tokoh bernama Ardan. Dia juga cukup menarik perhatian gue dengan karakternya yang tidak merendahkan teman tunanetra seperti Rama. Selain baik, dia juga digambarkan setia kawan. Kalau ada buku ketiga dari seri buku ini, selain ‘Hati Kedua’ dan ‘Mata Kedua’ (belum beli sih, masih berharap), tokoh Ardan ini punya sisi menarik untuk digali sebagai tokoh utama (harapan aja).

Keseluruhan, gue bisa bilang, “Terima kasih, Mbak Achi, sudah mengenalkan arti bersyukur atas apa yang Allah beri. Karena banyak dari kita yang justru tidak seberuntung kita.”

Tidak ada karya yang sangat sempurna, juga novel ini. Berikut adalah catatan yang gue temuin meski selama membaca novel ini gue tidak mencoba mencari beberapa kesalahan.
*Karena bagaimana inpdahnya punya kekasih saja... = Karena bagaimana indahnya punya kekasih saja...

Berikut juga kalimat yang membuat gue harus merenung:

“Hati kesatu, hati satu setengah, hati kedua dan hati ketiga.” Kak Syifa menunjukkan keempat jarinya. Aku masih diam menyimak. “Hati kesatu itu untuk Allah, Rasul dan agama kita, Ra. Hati kedua itu untuk orang yang kamu cintai dan hati ketiga untuk sahabat yang kamu sayangi.” (hal. 115)



Share:

0 komentar:

Posting Komentar