#4 RESNOV




Judul                  : Just The Three of Us

Penulis              : Larasati Torres – Sanz

Penerbit            : Gramedia Pustaka Utama

Terbit                 : -, 2013

Tebal buku       : 272 hlm

ISBN                    : 978 – 979 – 22 – 9830 – 7


Novel dibuka dengan cerita Alia bertemu pertama kali dengan Rian sewaktu ia mengantre untuk membayar biaya kuliah. Dan waktu itu Rian meminta bantuannya menitipkan bayaran karena Rian tahu kalau ikut mengantre, ia tidak akan dapat giliran. Kesan pertama bertemu sengan Rian, Alia merasa cowok satu ini super pede. Alia merasa risih juga sok akrab dan sahabatan dengannya.


Selain Rian, Alia juga bersahabat dengan Tina, gadis yang ceplas-ceplos, tomboi, urakan dan suka mabuk. Alia mulai kenal Tina setelah kejadian antre makan prasmanan di kantin kampus yang memancing keributan lantaran Tina menghalangi majunya antrean.


Persahabatan mereka bertiga menjadi sangat dekat hingga mereka lulus dari kampus. Alia menjadi dokter gigi, Tina menjadi pengacara dan Rian menjadi copywriter di agensi iklan. Meski begitu, persahabatan mereka tidak berkurang sedikitpun dengan adanya kesibukan kerjaan masing-masing. Bahkan setiap ada acara, di antara mereka menyempatkan datang.


Ada satu kejadian yang kemudian menjadi awal konflik untuk persahabatan mereka. Rian menyeret Alia dalam sandiwara besar untuk membohongi orang tuanya. Rian yang saat diintrogasi oleh ayah dan ibunya mengenai hubungannya dengan wanita seleb, merasa terpojok akhirnya menyebutkan nama Alia sebagai pacarnya. Kontan wajah mereka berbinar lantaran mereka sudah cukup kenal siapa Alia.



Mendengar pengakuan Rian soal sandiwara itu, Alia sebenarnya berat untuk mengabulkan permintaan Rian, membantunya dalam sandiwara. Karena saat yang bersamaan, Alia sedang dekat dengan Andre. 


Di tengah sandiwara, Alia juga dikejutkan dengan pengakuan Tina kalau dirinya dan Rian pernah berciuman. Tina juga terus terang kalau ia menyukai Rian. Alia yang saat itu berstatus ‘pacar sandiwara’ Rian, merasa tidak enak dengan Tina sehingga ia harus berpura-pura kalau semuanya normal –ia dan Rian hanya teman.


Serapat apapun bangkai disembunyikan, kelak baunya akan tercium juga. Itu yang dialami Alia. Sandiwara yang ia tutup-tutupi dari Tina pada akhirnya terbongkar juga. Tina marah besar. Semua komunikasi terputus hingga tiga minggu lamanya. Namun berkat skenarionya Rian, mereka kembali baikkan. Dan Tina pun paham serta menerima semua kejadian yang sudah terjadi. Mereka bertiga pun kembali menjadi tiga sahabat yang akrab.


Berjalannya waktu, berkat tragedi ‘ciuman-pembuktian-bukan-gay’, membuka pandangan Rian akan perasaannya pada Alia. Dua kali ciuman itu berlangsung. Dan setelah bergelut dengan dilema panjang antara memilih Andre atau Rian, Alia memutuskan untuk menolak lamaran Andre –cowok sangat baik-, yang memintanya menjadi istri. Alia lebih memilih Rian.


----------------------------------------------------------------------------------------------------
Setelah naik turun ritme kemampuan membaca gue, novel ini akhirnya bisa terselesaikan. Tarik nafas dan mulai melanjutkan mengetik resensi yang sebelumnya pernah gue buat sewaktu baru selesai membaca setengah buku.

Novel ini bercerita banyak tentang persahabatan. Tidak ada batas jarak yang seharusnya memisahkan hubungan persahabatan seperti yang dilakukan tiga sahabat; Alia, Rian dan Tina. Mbak Larasati –penulis- mengingatkan pembaca tentang pentingnya melakukan banyak hal baik untuk sahabat. Walau hanya sekedar memenuhi undangan atas kebahagiaan sahabat, entah beli rumah baru, membuka usaha baru atau bahkan baru naik jabatan.

Gue salut dengan karakter Tina yang sangat kacau. Namun di balik tingkahnya yang menurut penilaian awal gue minus, Tina adalah sosok gadis yang tidak cengeng dan mau bangit dari keterpurukannya atas kesalahpahaman. Dia tangguh ketika harus menyelesaikan masalahnya dengan Alia. Sangat disayangkan, porsi karakter Tina ini sangat terbatas.

Gue pikir genre Metropop novel terbitan Gramedia ini akan sama rasanya saat gue membaca novel terbitan Bentang Pustaka (harus membandingkan). Tapi ternyata beda sekali. Metropop ini plotnya lebih cepat dan bahasanya sangat lugas. Kadang saat membacanya seperti sedang mengupas kulit pisang lalu setelahnya gue buang ke tong sampah. Pesannya susah didapat kalau belum membaca tuntas (ini penilaian subjektif ya, tergantung selera bahasa juga, mungkin).

Cover novel ‘Just The Three of Us’ ini sangat menarik. Dominan merah dengan menampilkan sosok karakter utamanya membuat pembaca tau akan dibawa kemana saat membacanya. Hanya pada beberapa bagian, gue kurang ngeh untuk membayangkan lokasi Jakarta, tempat mereka beraktifitas.

Beberapa kalimat yang gue stabilo saat membaca :

Seorang teman sejati tidak hanya menangis bersamamu saat kamu berduka, tapi dia juga akan tertawa denganmu saat kamu bahagia. Seorang sahabat akan selalu mewarnai duniamu.


Jika kamu mencintai seseorang mulailah memercayainya.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar