#8 RESNOV

Judul buku            : Assalamulaikum Beijing
Penulis                     : Asma Nadia
Penerbit                   : Noura Book
Terbit                        : Oktober, 2013 (cet 1)
Tebal buku             : 354 hlm.
ISBN                          : 978 – 602 – 1606 – 15 – 5



Gadis berusia dua puluh lima tahun itu bernama Asmara. Biasa dipanggil Asma atau Ra.

Menjelang pernikahannya, kenyataan dari calon mempelai laki-laki; Dewa, mengantarkannya pada rasa patah hati. Dewa mengakui telah berkhianat pada jalinan kasih yang sudah dijalin selama empat tahun.

Sewaktu malam dan sedang hujan deras, entah atas dorongan apa, Dewa mengantarkan rekan kerjanya pulang, Anita. Di rumahnya itu hal terlarang terjadi. Dewa sangat menyayangkan tragedi itu.

Pengakuan itu disayangkan Asma. Ia pun memilih untuk menggagalkan pernikahannya dan meminta Dewa bertanggung jawab.

Dewa akhirnya menikahi Anita yang sedang mengandung buah hatinya. Sementara Asma dalam masa berkabung, menerimaa tawaran untuk meliput di Beijing.

Beijinglah yang mempertemukan Asma dan Zhongwen. Panggilan Ashima pun disandang Asma dari laki-laki itu.


Pertemuan singkat tapi memberi kesan yang sangat dalam. Setelah kembali ke Indonesia, hubungan antara Asma dan Zhongwen masih berlanjut melalui banyak media komunikasi. Kebanyakan mereka mendiskusikan tentang Islam.

Pernikahan yang dijalani Dewa sangat suram. Sebaik apa pun Anita memperlakukannya, Dewa sama sekali tidak bisa menghargai Anita. Kehidupan rumah tangganya masih dibayangi sosok Ra. Dan karena hal ini pula, Anita yang sangat putus asa, akhirnya memilih jalan bunuh diri dengan menelan banyak pil obat. Namun ia tetap selamat.

Asma yang mulai goyah dengan hatinya akan sosok laki-laki yang ia temua dua kali di Beijing, harus mengalami penurunan kesehatan. Setelah serangkaian tes dilakukan, dokter menyatakan kalau Asma mengidap APS atau  antiphospholipid syndrome. Penyakit ini membuat Asma mengalami beberapa kali stroke, pingsan dan bahkan lumpuh.

Sementara Asma berjuang dengan sakitnya, Dewa berjuang dengan keluarganya dan Zhongwen berjuang dengan keyakinannya.

Setelah Anita melahirkan, Dewa pun menceraikannya. Ia segera menghubungi Ra dan berharap bisa melanjutkan kembali mimpi indah tentang masa depan berdua. Pada saat bersamaan, Zhongwen juga datang ke Indonesia demi menemui Asma.

Mengetahui sakit yang sekarang ada di diri Asma, Dewa mmelangkah mundur. Ia pun melihat laki-laki asing yang sangat peduli pada Asma dan keputusan untuk membiarkan mereka dekat menjadi jalan keluar.

Lalu dengan sabar dan setia, Zhongwen mendampinggi Asma. Naik turun kesehatan Asma terrekam jelas di benaknya dan tidak ada sedikitpun di dalam hati Zhongwen untuk meninggalkan Asma.

Takdir indah melingkupi Asma dan Zhongwen. Mereka akhirnya menikah. Di tengah resepsi, Asma pingsan. Ini stroke keduanya. Untuk beberapa lama Asma mengalami koma. Saat itulah keberadaan mamanya, sahabatnya; Sekar dan Zhongwen menjadi sangat berarti.

Begitu Asma siuman, memorinya hilang. Ia lupa dengan mamanya, Sekar dan Zhongwen; suaminya. Berjalannya waktu, Zhongwen mulai mengingatkan kembali siapa Asma sebenarnya.

Perjuangan Zhongwen terbayar saat anak pertamanya lahir. Orang dengan APS masih mungkin untuk memiliki anak dengan kondisi normal. Anak kedua pun mengikuti. Dan mereka bahagia dengan keluarga baru meski kondisi Asma masih belum pulih.

--------------------------------------------------------------------------------------------

Renyah! Ungkapan ini gue pikirin pas mulai baca beberapa bab pertama. Bahasanya enak dan mengalir santai. Sudah lama juga gue enggak menemukan jenis novel dengan bahasa renyah.

Tema yang dibawa novel ini sangat religius. Dan gue cukup senang bisa berimajinasi dengan kota Beijing. Mbak Asma Nadia berhasil membawa detail kota itu.

Novel ini mengajarkan banyak hal pada mereka yang akan menikah atau setelah menikah. Gambaran kehidupan setelah pernikahan dari versi sangat buruk terpapar jelas di sisi Dewa. Sedangkan kebalikannya, versi baik terjelaskan oleh Zhongwen.

Meski ceritanya bagus, namun selama membaca novel ini, gue sama sekali enggak merasa terharu yang berlebihan. Biasanya kalau gue terharu, gue bisa menangis (seperti saat membaca novel Mata Kedua – Ramaditya Adikara). Pendapat gue, ini terjadi karena kadang bahasa yang digunakan Mbak Asma sangat puitis. Sehingga butuh waktu untuk mengerti jelas maksud di dalamnya.

Kalau secara cover, cukup menarik. Perpaduan warna merah dan kuning membuat mata segar. Hanya pada judulnya; assalamualaikum, terlalu kecil ukuran fontnya sehingga tidak seimbang dengan tulisan ‘Baijing’nya.


Setelah membaca novel Mabk Asma Nadia, jadi penasaran dengan karyanya yang lainnya. Hemm!!
Share:

2 komentar:

  1. Openingnya spoiler, sebaiknya digantu jika disertakan utk lomba resensi dari tokoasmanadia.com terima kasih resensinya ya

    BalasHapus
  2. Kereeennn dari sisi alurnya. kapan difilmkan mbak?

    BalasHapus