#5 RESNOV




Judul              : Beautiful Temptation

Penulis          : Indah Hanaco

Penerbit        : Bentang Pustaka

Terbit             : September 2013

Tebal buku    : vi + 274 hlm

ISBN               : 978 – 602 – 7888 – 71 – 5




Renata Isabel adalah gadis berumur 25 tahun dan ia sedang berpacaran dengan pria muda 28 tahun bernama Nathan.  Ternyata mereka sudah pacaran lebih dari dua tahun dan selama rentang waktu itu Renata belum pernah diperkenalkan pada keluarga atau teman-temannya.  Alasan inilah yang selalu menjadi benih pertengkaran setiap kali mereka bertemu. Renata sering memaksa meminta penjelasan atas kebingungannya memikirkan hubungan yang terkesan rahasia. Tapi Nathan tidak pernah memberi jawaban yang memuaskan Renata dan justru menanggapi Renata seolah sedang meminta agar segera dinikahi.


Takdir mempertemukan Renata dengan Tristan, teman sang kakak, Zen. Waktu itu Zen yang bekerja di Surabaya sedang pulang. Zen meminta adiknya itu untuk membuatkan masakan enak buat teman-temannya. Pas hari H, dari sekian banyak teman Zen yang datang, ada cowok jangkung yang menarik perhatian Renata lantaran ia belum pernah melihatnya sebelumnya. 


Kedekatan antara Renata dan Tristan berlanjut. Dari mulai Tristan yang tiba-tiba bertamu ke rumahnya dan berakhir dengan ajakan makan malam dalam rangka merayakan ulang tahunnya hingga suatu sore Tristan sudah muncul di dapur sedang membantu memasak bersama mama. Kejadian ini membuat Renata menyadari kalau ada yang tidak ia mengerti di antara mereka berdua.



Pada acara resepsi pernikahan kakaknya Nathan, sang kekasih meminta Renata berdandan sebaik mungkin dan ia juga berjanji akan memperkenalkan Renata pada keluarganya. Informasi ini membuat dada Renata mengembang karena rasa senang. Begitu hari resepsi tiba, Renata memang diperkenalkan pada keluarga Nathan. Namun saat Nathan memperkenalkannya pada sang mama, Renata merasa sangat tidak nyaman. Tatapan mamanya Nathan sangat dingin dan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkannya sudah seperti sedang mengintrogasi. Renata tidak kuat untuk berlama-lama disana. Renata pun menelepon Tristan agar membawanya pergi dari sana.


Masalah bertambah pelik atas hubungan Renata dan Tristan dengan adanya sosok perempuaan di dekat Tristan, Fryda. Fryda ini ternyata mantan Tristan yang hubungan mereka sempat sampai pada tahap tunangan namun gagal. 


Ada percakapan serius antara Renata dan Tristan di De Koffee. Di kafe ini Tristan dengan terus terang menyatakan, ‘aku jatuh cinta kepadamu’ pada Renata dan mengabaikan peringatan Renata yang menyatakan dirinya tidak mungkin mengkhianati Nathan. Namun di luar dugaan, Tristan malah menyatakan dirinya siap menunggu seumur hidup. Berkat kekeraskepalaan Tristan, diantara mereka terbentuklah janji.


“Jika suatu saat kamu tidak lagi merasa kalau aku dan kamu adalah kemustahilan, maukah kamu datang kepadaku dan memberitahukannya?”


Sempat juga pada salah satu kesempatan Nathan datang ke rumah dan menanyai Renata tentang kepulangannya dari pesta tanpa memberitahukan lebih dulu. Sepanjang apa Renata menjelaskan situasinya, Nathan ternyata lebih hormat pada mamanya yang jelas-jelas tidak menyukai dirinya. Dan pada saat itu muncul pula Tristan. Ini merupakan benih ketidakcocokkan antara Tristan dan Nathan.


Renata juga sempat memperkenalkan Tristan pada sepupunya, Priscilla, dan sepupunya ini terang-terangan mengakui kalau ia suka pada Tristan. Renata cemburu. 


Tristan pernah membawa Renata pada keluarganya. Renata merasa nyaman. Di tengah keluarga Tristan, Renata merasa tidak sedang diintrogasi dan dinilai. Ia mampu membaur dengan anggota keluarga Tristan. Bahkan keramahan mereka membuat Renata dekat dengan om Sandro dan tante Lenny.


Takdir berkata lain, hubungan Renata dengan Nathan harus kandas setelah pertemuan kedua Renata dengan mamanya Nathan. Hal yang terjadi di pesta lalu kembali terulang, Renata diintrogasi oleh mamanya Nathan. Namun kali ini lebih merendahkan lantaran Renata bukan gadis berpendidikan tinggi, ia hanya lulusan SMA yang kemudian berhenti kuliah untuk membantu ibunya mengurusi katering.


Setelah hubungannya berakhir dengan Nathan, Renata mulai menata hati untuk Tristan. Dan Tristan tidak melewatkan kesempatan begitu saja. Di pesta ulang tahun Alexa, anak kakaknya, Tristan membuat pengumuman kalau ia akan menikahi Renata secepat mungkin. Semua merestui mereka berdua.

----------------------------------------------------------------------------------------------------

Pertama kali melihat cover novel ini, gue kira gue akan menemukan bacaan yang dasyat. Dengan warna yang begitu memikat mata dan judul yang terkesan romantis, siapa pun akan mengira ada sesuatu yang bagus di dalamnya. Setelah membaca bab awal, gue kecewa. Ada rasa yang hilang dari cerita ini. Kesan pertama yang ada adalah bahasa yang bertele-tele dan terkesan plotnya lambat sekali. Gue bahkan sampai mengulang beberapa kali untuk benar-benar bisa menyelesaikannya. Ini efek tidak ada greget dalam mengikuti alurnya. Semua terasa datar. Bahasa, penceritaan dan bahkan alurnya pun seperti air danau yang tenang.

Sebenarnya gue punya niatan untuk membaca novel ini dalam waktu singkat. Namun karena pekerjaan yang lumayan banyak, akhirnya gue hanya bisa mencuri-curi waktu untuk menyelesaikan novel ini. Anehnya, novel ini tidak memberi gue rasa penasaran akan cerita selanjutnya, gue membaca novel ini seperti mengunyah makanan yang enggak gue suka. Lama banget. Berkat niat ‘apapun bacaannya, dan harus diselesaikan agar bisa memposting resensi di blog’, novel ini akhirnya kelar juga. Dari pandangan gue, novel ini seperti terlahir dari pengarangnya – Indah Hanaco- dengan sangat terburu-buru. Sepanjang novel yang tebal ini, hanya mengisahkan beberapa adegan yang terangkum dalam hitungan waktu yang singkat, yang kemudian penulis penggal ke beberapa bab. Sayang sekali..(maaf kalau salah pendapat gue ini).

Untuk penokohannya sangat bagus. Apalagi sosok Zen, kakaknya Renata, meski porsinya sedikit, gue bisa menangkap karakter yang kuat pada sosok Zen ini. Entah kenapa gue selalu tertarik pada tokoh-tokoh sampingan yang pada beberapa novel selalu diceritakan dan selalu diberi cerita yang menggantung hingga menimbulkan tanda tanya. Mungkin tokoh Zen ini bisa digali kembali.

Gue memang bukan penulis, tapi gue sebagai pembaca berhak menilai buku yang gue baca dan novel ini bisa dibilang, ‘mengecewakan’. Dari plot terutama. Sangat membosankan.





Share:

0 komentar:

Posting Komentar