#9 RESNOV



Judul buku              : Lost & Found
Penulis                      : Sisca Spencer Hoky
Penerbit                   : GagasMedia
Terbit                         : -,2013
Tebal buku              : vi + 198 hlm.
ISBN                          : 979 – 780 – 665 – 0


Bagaimana sih rasanya kalau diperhatiin diam-diam sama seseorang, terus orang itu tiba-tiba bertingkah mencari perhatian dan sok kenal sok dekat?

Jane merasa risih ketika seorang cowok bernama Chris mencoba mendekatinya. Ada saja kesempatan yang dimiliki Chris untuk berdekatan dengan Jane. Setelah curhat prihal cowok bernama Chris ini kepada sahabatnya, Gloria, Jane terus memikirkan kemungkinan cowok itu membantunya dalam hal perasaan.

---“...Mungkin Chris bakal bantu lo mengangkat ‘baggage’ hidup lo. Kalo kata Ted, ‘It’s easier when someone gives you a hand of it.’”---(hal. 19)

Dan benar saja, kedekatannya dengan Chris membuat hari-harinya penuh warna. Bahkan mama dan papanya Jane menyukai Chris juga.

Banyak hal yang sudah dilakukan Chris pada Jane, seolah Chris ini selalu siap kapan pun Jane butuh. Entah untuk menemani belanja atau saat kecelakaan mobil menimpa Jane.

Perlahan namun pasti, Jane merasa hidupnya tidak bisa jauh dari Chris. Ini akibat perhatian yang diberikannya. Dan Jane justru bingung dengan perasaannya yang belum bisa melupakan sosok Xander.

Xander adalah mantan pacar Jane yang pernah tiba-tiba menghilang. Jane sangat patah hati ditinggalkan Xander sampai ia merasa butuh benteng berlapis-lapis agar menjaga hatinya dari jatuh cinta.

Xander dan Chris merupakan dua kepribadian yang jauh berbeda. Xander terkesan cuek sedangkan Chris sangat, sangat perhatian. Sempat terbesit beberapa kali benak Jane untuk membandingkan keduanya. Namun dengan segera Jane menghalang memperbandingkan mereka.

Jauh di lubuk hati paling dalam Jane, ia masih berharap ada cerita antara dirinya dengan Xander. Sampai keduanya sarapan bareng, Xander sama sekali tidak membahas dan mengutarakan kemana selama ini ia menghilang. Maka pupuslah semua harapan Jane akan Xander.


Lalu di bawah langit malam, antara Jane dan Chris terlibat percakapan tentang perasaan masing-masing. Jane memastikan pada Chris kalau ia tidak siap harus menerima pria baru dalam hidupnya. Sedangkan Chris terlanjur berharap besar untuk bisa memiliki Jane. Chris ditolak.

Perpisahan tak dapat dihindari. Chris memilih pergi ke London untuk meneruskan kuliah. Dan kepergian Chris ini membuat Jane nelangsa. Ditambah setelah Jane meminta penjelasan yang seharusnya ia dapatkan dari Xander setelah ia menghilang, Jane merasa sangat bersalah pernah menolak perasaan pria sebaik Chris.

Di waktu yang tidak terduga, saat Jane sedang nge-gym di tempat ia bertemu Chris, sosok pria yang sangat ia rindukan dapat dilihat matanya kembali. Rasa bahagia membuncah tak terkira.

Pada tempat yang sama, tempat dimana Jane pernah menolak Chris, kali ini ia menyanggupi ajakkan romantis atau lamaran Chris.

---...Kini, ia yakin bahwa dirinya tidak lagi berteman dengan sakit...--- (hal. 196)

--------------------------------------------------------------------------------------------


Butuh satu hari aja agar gue bisa menyelesaikan membaca novel ini. Kayaknya ada kemajuan kecepatan membaca gue. Hehehe.

Plotnya terbilang cepat dan hanya berkeliling di sekitar Jane selaku tokoh utama. Namun sepanjang membaca gue enggak menemukan sosok Jane ini kayak apa di bayangan otak gue. Disayangkan banget porsi Xander sebagai masa lalu Jane sangat sedikit disinggung. Sehingga gue enggak bisa menebak perasaan sesakit apa hati Jane ketika ditinggalkan Xander.

Untuk tokoh Chris gue suka. Mungkin karena porsi cerita yang banyak sehingga gue dapat gambaran tuntas siapa Chris ini. Dan lagi-lagi lemahnya adalah kenapa masa lalu Chris dan mamanya tidak dijelaskan secara detail. Aneh rasanya ketika seorang pria dewasa masih merindukan sosok mama yang sudah meninggal seprihatin Chris. Digambarkan oleh Sisca sebagai penulis, Chris masih sangat terpukul dengan meninggalnya sang mama seolah peristiwa itu baru terjadi tiga sampai enam bulan yang lalu. Kok bisa ya?

Namun secara keseluruhan cerita sudah sangat menghibur.

Dari segi cover, gue kurang suka. Bahkan ketika novel ini gue bawa ke kantor, lalu salah satu rekan kerja melihat covernya, ia mendekat lalu berkata, “Lha, inikan permen cha-cha. Kurang menarik banget. Maksudnya apa, Din?” Gue cuma geleng-geleng kepala.

Novel pertama selalu akan dikritik. Dan novel ini termasuk. Mba Sisca jangan patah semangat. Ada banyak kesempatan untuk membuat gebrakkan di novel selanjutnya. Gue bakal menunggu karya selanjutnya.



Share:

0 komentar:

Posting Komentar