#15 RESNOV


Judul buku             : Melbourne (STPC)
Penulis                     : Winna Efendi
Penerbit                   : Gagasmedia
Terbit                        : -, 2013
Tebal buku             : xii+328 hal
ISBN                          : 979-780-645-6

Pengumuman! 

Akhirnya gue memutuskan untuk enggak bikin resensi yang menerangkan kejadian keseluruhan novel dalam paragraf-paragraf lengkap. Enggak adil aja buat yang mau membaca novelnya. Bisa jadi informasi yang gue kasih, membuat mereka males beli dan baca novelnya karena sudah tau kurang lebih jalan ceritanya. Dan mulai dari resensi ini, gue pakai trik, opini subjektif.

Nah, novel yang baru kelar gue baca ini adalah karya Winna Efendi. Gue kenal nama dia ketika beli buku Draft 1: Taktik Menulis Fiksi Pertamamu. Buku ini juga yang gue (masih) gue anggap sebagai inventaris melengkapi hobby gue; menulis. Meski belum pernah benar-benar tamat mempelajari taktik yang dibagi, tapi gue selalu membukanya tiap kali niat –angin-anginan- gue muncul buat menyelesaikan novel. Dan Melbourne ini buku kedua Mbak Winna yang gue punya.

Melbourne, novel ber-cover kuning ini sempat terlantar di tumpukkan novel lainnya yang belum kebaca. Maklum, gue tipe pembaca yang harus dimotivasi dulu kenapa gue harus membaca novel itu. Dan saat membeli novel ini, terus terang saja, gue hanya iseng ingin membaca salah satu proyek Gagasmedia dan Bukune; Setiap Tempat Punya Cerita (STPT). Dan enggak tau dari deretan buku dengan tema sama, gue malah membeli karya Mbak Winna. Tapi mungkin karena namanya yang sudah familiar di benak gue kali.

Begitu membaca, sumpah, buat gue yang bodoh banget bahasa inggris agak kesulitan memahaminya. Banyak banget kalimat bahasa inggris yang disisipkan di setiap paragrafnya. Tapi gue enggak mau pusing dengan sisipan itu, alhasil, gue memilih mengabaikan. Toh, nyatanya itu tidak mengurangi rasa dari novel ini. Artinya, Mbak Winna mampu mengemas cerita yang berkesan secara keseluruhan. Keren bukan?

Gue paling suka sama Max. Kepribadiannya sangat gentle. Dan enggak tau kenapa gue sampe memiliki kalimat buat Max; ‘Romatis itu enggak romantis’.  Oh, andai gue jadi dia, gue bakal sangat keren!! Hahaha. Lebay.


Tenang, obsesi gue akan sosok Max enggak mengambil separuh otak gue kok. Gue masih bisa melihat dunia nyata seutuhnya. Poin yang paling greget adalah tipe dua tokoh utamanya, Max dan Laura, yang sama-sama pekerja keras. Gila aja mereka lembur ngerjain tugas kuliah atau proyek mereka sampai pagi. Romantisnya dapet juga sih. Abis lembur ditemenin sama orang yang kita sayang. Suit! Suit!

Lalu sempat gemes juga sama plot –ke-mantan-pacar-bilang-i-love-you-so-what!!!.

Apa salahnya? CLBK kan wajar!

Sumpah, gue bisa mengikuti cerita ini dengan hati. Bahkan saat pertengkaran Max dan Laura, pasca temannya, Cee mengumukan akan tunangan dengan Evan, itu spot paling jleb banget. Ditambah gue membaca bagian ini ditemenin lagu mellow; Dyno – Ketika Cinta Harus Berakhir. 100% pool, dapet banget taste-nya.

Jadi, Max ini mantan Laura, ditengah jalan Laura gamang begitu kenal Evan, pacar temannya Cee. Cerita berkutat disitu. Tapi di awal-awal sempet kesel juga. Kok mbak Winna bikin paragraf deskripsinya panjang-panjang? Enggak tau apa kalau baca paragraf begituan itu paling males dan butuh supplai extra sabar. Namun akhirnya terbayar dengan cerita yang ciamikk.

Oh, ketika gue akhirnya menyelesaikan cerita Melbourne pada halaman 342, kok ada yang kurang. Hep! Ini pilihan Mbak Winna kok untuk mengeksekusi ceritanya seperti apa. Dan gue merasa enggak adil aja ketika Max dan Laura hanya berada di status yang tidak terdeskripsikan oleh kata-kata. Gue pribadi berharap ada kejelasan. Ketidakjelasan itu membingungkan ke depannya. Hahaha...

Overall, I like this...(bahasa inggris gue kacau)...


Share:

0 komentar:

Posting Komentar