[resensi novel] Angan; Akhirnya aku tahu apa ini namanya...



Judul buku               : Angan
Penulis                      : Sophie Maya
Penerbit                    : Bukune
Terbit                         : April 2013 (cetakan kedua)
Tebal buku               : vi+282 hlm
ISBN                          : 602-220-071-7

Ada yang berdegup-degup di hatiku, ini cinta. Aku tahu.
Tapi, kenapa kau menatapku heran, tak ada yang salah
Bukan jika gadis remaja jatuh cinta?
Kadang, kita tak bisa memilah rasa asin dan manis
Karena keduanya telah bercampur dalam satu ramuan rasa.
Namun, aku bisa memilah cinta
Di antara segala rasa yang ada.
Kau...,
Ada hal yang ingin kukatakan sejak awal aku bertemu
Denganmu....

Setelah membaca banyak novel terbitan Gagasmedia, akhirnya gue mencoba juga terbitan temennya Gagasmedia, Bukune. Sebenarnya gue pernah beli novel dari penerbit ini, hanya itu novel lama dan gue belum sempat membaca ulang lagi. Mungkin nanti dan itu akan gue pastikan resensinya akan muncul di blog ini.

Novel Angan karya Sophie Maya, sangat berbeda banget dari bayangan gue. Pas lihat covernya, yang ada di bayangan gue, novel ini akan mengisahkan cerita dewasa. Tapi begitu mulai membaca, ternyata tokohnya adalah anak-anak SMA. Gue pun mau komitmen untuk menyelesaikannya meskipun sempat tergoda dengan novel baru yang gue beli untuk bulan Januari 2014 ini.

Jahat enggak ya kalau gue bilang cover novel Angan ini menipu? Anggun, tenang, teduh, damai dan begitu dewasa. Gue suka jenis cover begini. Tapi gue juga enggak bisa ngapa-ngapin sama cover yang sudah ada. Yang penting berikutnya adalah isi novelnya.

Temanya tentang warna-warni masa SMA yang dilalui dua cewek bersaudara tiri, Nadia dan Mia. Mereka berdua sangat bertolak belakang soal karakter. Mia begitu feminim, aktif di sekolah dan sangat patuh sama aturan. Berbeda dengan sudara tirinya, Nadia, yang sangat kasar kalau ngomong, suka tawuran, doyan bolos dan bisa sangat cuek. Perbedaan karakter ini ternyata akibat rasa iri.

Sejak ada Mister Kim, guru dari Korea, Mia dan Nadia bersaing untuk mendapatkan perhatian sang guru. Namun di akhir kisah, mereka sadar kalau perasaan mereka tidak seperti yang selama ini mereka pikirkan.

Bagus enggak novel ini?

Bagus. Gue sempet tersentuh tanggung sama kisahnya. Terutama saat bagian akhir, ketika Mia ditawan oleh Timo, preman sekolah tetangga, dan Nadia merasa perlu menyelamatkan saudaranya. Emosinya mulai terasa tapi saat eksekusi, gue hanya mengelus dada. Kok segitu aja diakhiri?

Pengarang sengaja sekali membuat ending manis sesuai umur tokohnya dan menurut gue ini kurang nendang. Gue kira tidak ada yang salah kalau kisah SMA dibuat dramatis dengan sesuatu yang akan membuat pembaca sesak nafas menahan rasa tidak percaya.

Gue kira akan ada tawuran yang hebat dan gue pengennya Mia itu meninggal akibat tawuran itu. Dengan begitu, rasa sesal akibat persaingan dan rasa iri sebenarnya tidak pernah membawa kita kemana-mana.

Tapi ya mau digimanakan lagi, cerita dan flot di tangan penulisnya. Ini hanya pendapat gue selaku pembaca aja.

Gue juga merasa terganggu dengan banyak kesalahan cetak. Ada kesalahan pengulangan kalimat tiap mau ganti halaman. Kalau tidak salah gue menemukan tiga kali, hanya gue lupa di halaman berapanya. Gue kira penerbit sekelas Bukune sudah punya editor yang mumpuni tapi di novel ini kok sampai kelolosan seperti itu. Selain kesalahan ini, ada juga beberapa kalimat yang kehilangan salah satu katanya sehingga pas baca jadi bingung. Gue sampai harus membaca ulang, dan ternyata memang kurang ketik. Sayang banget ya.

Akhirnya penilaian gue pada novel ini, menghibur.


Share:

0 komentar:

Posting Komentar