[resensi novel] Mi Amor; Aku mulai mencintainya...



Judul buku               : Mi Amor (di titik nol kota Madrid)
Penulis                      : Sayfullan
Penerbit                    : Senja
Terbit                         : Desember 2013
Tebal buku               : 316 hlm
ISBN                          : 978-602-255-403-5

Tema novelnya percintaan remaja yang dialami dua gadis kembar dengan pria pilihannya masing-masing yang masih dibayangi masa lalu. Masa lalu inilah yang jadi konfliknya, yang membuat gue harus sabar menunggu akhir ceritanya.

Untuk flotnya menggunakan flot maju. Dimulai di titik nol kota Madrid dan berakhir di titik nol kota Madrid pula. Sesuai dengan judul novelnya. Gue sangat menikmati flot maju. Karena perhatian membaca gue tidak terganggu dengan scane-scane masa lalu yang kadang membuyarkan bayangan-bayangan cerita yang sudah kebentuk.

Hanya untuk penokohan, sayang banget, setiap karakter-karakternya; Kiana, Serilda, Reza dan Adit, masih belum kuat. Bahkan gue tidak mendapatkan gambaran wajah tokoh-tokoh ini. Gue bisa menikmati ceritanya hanya dengan bekal nama doang. Kalau visualisasi tokohnya, gue harus jujur, tidak terbayangkan sama sekali.

Dari keseluruhan cerita Mi Amor ini, gue mengerti kalau cinta harus memilih dengan hati dan tidak perlu menimbang masa lalu sebab masa lalu tidak selalu mengikat kita untuk masa depan. Dan rasa iri bukan harta yang mesti dipelihara di hati sebab iri tidak membuat kita jadi seperti apa-apa.

Cover dengan dominan warna cokelat dari biji kopi dan warna bangunan, sedikit membosankan dan buat gue yang lebis suka warna cerah, simple dan tidak macam-macam, cover ini tidak menarik. Bahkan cover cokelat begitu kelihatan mistis.

Gue kurang tahu Sayfullan ini udah sekelas siapa dalam berkarya. Dan Mi Amor ini novel pertama yang gue baca dari karyanya. Meski bisa dibilang perkenalan, gue suka dengan cara penulis merangkai cerita hingga bisa diikuti dengan lancar. Biasanya gue akan membaca cepat dengan meloncat-loncat kalimat, namun di novel ini, gue tidak begitu banyak melakukannya. Masih melakukan tapi tidak banyak yang gue lewatin. Mungkin karena kekakuan kalimatnya yang kadang gue harus melocat beberapa kalimat yang menurut gue bisa dilompati tanpa meninggalkan atau memotong cerita.

Ini juga novel pertama terbitan Senja yang gue baca. Dan untuk jenis kesalahan, gue tidak menemukan. Atau gue yang tidak teliti? Tapi selama gue membacanya, tidak ada dahi berkerut melihat kalimat kurang lengkap atau pengulangan kalimat. Baguslah.

Ada beberapa adegan yang pas gue baca hampir menguras air mata yaitu saat Kiana tahu kalau Adit adalah pangeran masa lalunya. Dan lebih kuat lagi rasa sedihnya ketika Reza harus menahan rasa sakitnya dengan kenyataan dari sang kekasih. Cukup membuat hati bersimpati sih.

Gue masih penasaran dengan nasib Adit yang akhirnya berkorban. Dan akan lebih manis kalau ada novel sekuelnya yang menyoroti kisah cinta dua tokoh utama yang akhirnya dipersatukan kembali setelah melewati banyak halangan.


Share:

0 komentar:

Posting Komentar