[resensi novel] Orang Ketiga; Cinta mesti memilih akhirnya...



Judul buku              : Orang Ketiga
Penulis                     : Yuditha Hardini
Penerbit                   : Gagasmedia
Terbit                        : -, 2013 (cetakan kesembilan)
Tebla buku             : vi+246 hlm
ISBN                          : 979-780-394-5

Ini novel yang akhirnya lolos gue baca sampai tamat. Sebelumnya, gue baca novel yang judulnya lain, berhubung ceritanya dan jumlah halamannya yang banyak, akhirnya berhenti di tengah jalan.

Novel Orang ketiga karya Yuditha Hardini ini sangat mencengangkan begitu gue lihat tahun terbitnya. Cetakan pertama di tahun 2010 dan yang ditangan gue ini masuk cetakan kesembilan di tahun 2013.

Sebelumnya novel Kok, Putusin Gue? Karya Ninit Yunita juga bukan novel baru melainkan cetakan ulang. Kayaknya Gagasmedia lagi menerbit ulang novel-novel lamanya. Sedikit kecewa sih, karena gue kira itu novel-novelnya baru.

Balik ke cerita Orang Ketiga, awal baca, gue tahu ada perbedaan mencolok dari bahasa yang biasa digunakan Gagasmedia untuk novel-novelnya, yang menurut gue sudah jadi taste khasnya Gagasmedia. Dan di Orang Ketiga ini gue merasa bahasanya masih terasa kaku, kurang mengalir. Tapi pas baca cetakan keberapanya, gue maklum. Toh selalu ada perubahan tiap tahunnya kan? Tidak terkecuali Gagasmedia.

Tokoh utamanya bernama Anggi. Karakternya sangat plin-plan. Gampang banget jatuh cinta meski sudah beberapa kali disakitin. Dan yang paling bikin gemes itu pas dia balikan lagi dengan Angga, yang jelas-jelas Angga hanya memposisikannya sebagai Orang ketiga dihubungannya dengan Ratri.

Mungkin yang paling gue acungin jempol itu karakter Rudi. Bisa jadi faktor umurnya yang sudah dikepala tiga, dia tampak dewasa dengan pembawaan yang tenang. Namun saat pulang dari bertemu orang tua Anggi, sikapnya yang mempermasalahkan masa lalunya, sedikit mengecewakan.
Logikanya, kalau pun punya masa lalu yang kelam, toh masa sekarang dia sudah berubah. Kenapa masih menganggap itu sebagai ganjalan untuk melanjutkan hubungan  yang lebih serius. Kelihatannya itu hanya masalah sepele yang semestinya tidak menjadi alasan dasar untuk memutuskan hubungan.

Anggi memang suka sekali bermain-main dengan perasaan. Dan ini jadi pesan buat pembaca untuk tidak bermain api sebab yang mengalami luka bakarnya bukan orang lain melainkan diri sendiri.

Karakter Kayla juga seru. Dibeberapa bagian sangat lucu sampai mancing gue buat ketawa ngakak. Seperti dialog chat-nya Anggi dan Kayla di halaman 162. Sumpah, lucu banget.





Share:

0 komentar:

Posting Komentar