[resensi novel] Rhapsody; Meruntuhkan tembok!


Judul buku               : Rhapsody
Penulis                      : Mahir Pradana
Penerbit                    : Gagasmedia
Terbit                         : -, 2013
Tebal buku               : viii+322 hlm
ISBN                          : 979-780-656-1

Hei, di sebelah dunia bagian mana kau sedang berada?
Sudah bertahun-tahun kau dan aku mencari arah.
Berkali-kali jatuh cinta pada selatan.
Menaruh keraguan pada barat.
Terus menunggu isyarat timur.
Hingga utara pun sudah tak lagi kita percaya.
Sudah kejejaki banyak kisah, kutemui pula banyak luka.
Ternyata, pada kisah lalu milik kitalah harapan itu tetap ada.
Masih kuatkah kau dan aku berjalan?
Atau, kali ini, mungkin pulang akan menjadi jawaban.

Akhir-akhir ini gue mampu membaca dengan lumayan cepat. Gue bisa membaca novel rata-rata 2-3 hari. Memang sih bukan dalam hitungan jam, tapi dari kurun waktu segitu, gue sudah ada kemajuan. Yang biasanya untuk menyelesaikan satu novel, gue butuh waktu hingga seminggu. Termasuk saat membaca Rhapsody karya Mahir Pradana ini.

Rhapsody bercerita tentang Abdul Latif berumur 26 tahun yang memutuskan untuk mengelola hostel peninggalan ayahnya. Berbekal pendidikan perhotelan yang pernah ia enyam selama 3 tahun di Swiss, Al –begitu panggilan Abdul Latif- mencoba membenahi hostel yang ia namai Makassar Paradise. Al tidak sendirian meski ayah dan ibunya sudah meninggal. Ia memiliki teman kerja bernama Bembi yang alay.

Dan takdir membuat seorang Miguel muncul dengan membawa bantuan ala
‘Bank Budi’. Konsep jelasnya silakan baca novelnya. Kemunculan Miguel yang tiba-tiba dan di luar nalar ini membawa angin segar. Hostel yang tadinya sepi pengunjung, berkat ide dan saran Miguel, hostel pun menjadi ramai.

Tapi ternyata datangnya Miguel dari Spanyol ke Indonesia bukan hanya dilatarbelakangi ‘Bank Budi’, melainkan ada alasan lain. Penasaran? Buruan baca ya!

Ada beberapa tokoh yang gue temuin di novel ini. Dan kayaknya perlu deh gue sebutin. Abdul Latif, Bembi, Simon, Miguel, Siska, Nadia dan Sari. Cerita fokus pada karakter-karakter ini dengan permasalahannya masing-masing. Dan gue agak kurang ngeh dengan karakter Simon ini. Tidak ada bayangan sama sekali. Mungkin karena tokoh ini datang di tengah-tengah novel kali, tidak dari awal.

Plotnya ada flash back. Penulisnya pinter mengakali jalan-jalan pribadinya menjadi nyambung dengan cerita utama Al di Makassar. Padahal kalau dipikirkan lagi, kenapa mesti disisipi perjalanannya yang berkeliling beberapa kota. Tapi ternyata poin itu penulis gunakan untuk menceritakan satu kasus dalam hidupnya yang mengubah pandangannya soal cinta.

Gue merasa terhibur, apalagi dengan cara bicara Bembi yang okkots-nya parah. Lucu aja, kata yang akhirannya-n jadi –ng, dan sebaliknya, akhiran –ng menjadi n. Kadang rancu juga membaca kalimat bagian Bembi. Ditambah lagi Bembi juga kadang menggunakan bahasa gaul.

Pesan yang kuat dan gue dapatin setelah membaca novel ini mengenai mimpi yang harus direalisasikan. Namun dengan cerita yang begitu banyak intrik-nya ini, membuat pesan itu tidak begitu nendang. Bahkan kalau ditelusuri, pesannya makin banyak. Soal persahabatan, soal cinta.

Bicara soal cinta-cintaan, gue suka sama kasusnya yang rada membelit. Dimana Al pacaran dengan Sari dan putus, lalu Al pacaran dengan Nadia. Namun hubungannya tidak lancar juga. Ternyata mantan tidak selalu jadi masa lalu yang buruk.

Secara keseluruhan gue suka novel ini. 

Share:

0 komentar:

Posting Komentar