[resensi novel] Tango; cinta dan kenyataan yang ada.



Judul buku               : Tango
Penulis                      : Goo Hye Sun
Penerbit                    : Ufuk Fiction
Terbit                         : September 2012 (cetakan kedua)
Tebal buku               : 312 hlm
ISBN                          : 978-602-18349-8-5

Siapa yang mengingat kematianku?
Keinginan untuk diingat seseorang
Keinginan untuk dihormati
Sekarang sudah tidak ada.

Percintaan memenuhi semua bagian novel Tango ini. Tema yang kadang membuat gue pun merasakan jatuh cinta juga. Tapi yang paling mendasar yang gue tangkap dalam novel percintaan adalah bagaimana memahami wanita dan bagaimana bersikap sebagai pria. Pelajaran ini yang gue selalu pahami betul-betul.

Kang Jong Woon, cinta pertama Yun, memang sosok yang tidak percaya diri atas perbedaan yang ada antara dirinya dan Yun, sehingga pertengkaran kecil yang berulang-ulang tidak dapat terhindarkan. Cinta dan kenyataan membuatnya terbebani.

Yun, si Aku, sudah sangat berkorban untuk memahami Jong Woon, kekasihnya. Namun sekeras apa pun ia berusaha, perbedaan yang selama ini diributkan kekasihnya itu, dan ia tidak peduli dengan itu, tetap menjadi masalah yang selalu meledakkan spketrum cintanya. Ia berusaha menerima Jong Woon yang perokok dan peminum alkohol. Juga pecinta kopi pahit, esspreso.

Park Si Hoo, muncul saat hati Yun kosong dan merubah semua pandangan Yun akan cinta dan kenyataan. Namun ia juga penyebab rasa sakit kedua kali setelah luka yang ditorehkan Jong Woon.

Meski setiap tokoh yang ada tidak dibeberkan dengan detail secara fisik, gue masih sanggup memahami bayangan mereka semua. Dan semuanya mempunyai karakter yang berbeda-beda.

Lalu novel ini sebenarnya ingin mengajak pembacanya untuk move on. Apapun kenyataan yang terjadi, sakit, menyakitkan, senang, membahagiakan, hidup harus berjalan sebelum raga terkubur. Tidak ada waktu yang harus terlewati untuk sebuah keberhentian karena patah hati dan berduka akibat meratapi cinta dan kenyataan.

Gue bingung begitu membaca bab pertamanya. Bahasanya ringan dan sangat mudah dipahami. Tapi kalimat yang ringan dan mudah dipahami ini memiliki makna yang sangat dalam. Seperti bahasa sajak. Pendek tapi bermuatan makna. Gue bisa menikmati penulisan tipe begini. Dan tidak membebani. Lalu gue juga baru sadar kalau lokasi, waktu dan keadaan sangat tidak banyak digambarkan dengan detail. Namun anehnya ini tidak mengganggu gue dalam memahami flot yang ada. Novel ini istimewa buat gue.

Gue juga suka dengan covernya yang sangat dramatis. Wajah penulisnya yang cantik dengan tulisan warna emas dari kata Tango, begitu apik. Gue yakin novel indonesia pun akan ada yang menyamainya.


Share:

0 komentar:

Posting Komentar