[resensi novel] Versus; Paradoks...



Judul buku             : Versus
Penulis                  : Robin Wijaya
Penerbit                : Gagasmedia
Terbit                    : -, 2013
Tebal buku            : viii+400hlm
ISBN                     : 979-780-670-7

Amri
“Perselisihan ini tidak akan pernah selesai. Dan aku tahu, kami akan selalu hidup dalam bayang-bayang pertikaian. Lalu, ini adalah cerita turun temurun yang diwariskan dari generasi-generasi sebelum kami.”
Chandra
“Menjadi dewasa itu mengajarkan gue kalau hidup itu enggak pernah jadi lebih mudah. Lo harus siap menghadapi segala hal yang sama sekali nggak menyenangkan.”
Bima
“Saya berkutat dalam masalah mereka yang membenci perbedaan. Saya tidak sedang berusaha mencari kesamaan atau membuat persamaan agar kita bisa saling menerima. Saya berusaha hidup di antara itu semua. Hidup di antara perbedaan.”
-----------------------------------------------------------------------------------------
Versus-nya Robin Wijaya mengisahkan tiga pria muda yang bersahabat dekat dengan konflik pribadi masing-masing. Dan konflik yang tengah mereka hadapi secara alami membentuk pola pikir dan prinsip. Ini yang membuat mereka tetap sama-sama dan dekat. Ketika perbedaan bisa saling melengkapi dan saling menerima.

Gue suka novel ini. Enggak nyangka aja setelah sekian lama novel ini tergeletak manis di tumpukkan novel yang nunggu untuk dibaca, akhirnya selesai juga gue lahap. Awal baca prolog gue pesimis novel ini akan bagus. Namun setelah mengikuti dengan sabar, setiap fragmen memiliki khas masing-masing akibat dari penceritaan yang mengambil dari tiap tokoh masing-masing.

Kalau harus dibandingkan, novel ini sebenarnya sejenis dengan novel 5cm. Temanya anak muda, persahabatan. Bedanya mungkin di novel ini porsi cinta-cintaannya sedikit sekali. Sedangkan di novel 5cm, titik berat ending cerita berkutat di cinta-cintaan. Lalu harus gue akui kalau baca novel ini tidak seheroik pas gue baca 5cm.

Bahkan saat membaca beberapa bab, gue kayak maraton. Gaya baca cepat dengan meninggalkan beberapa baris kalimat yang sifatnya hanya narasi pendukung. Dan trik ini ampuh mempersingkat waktu baca gue.

Dari tigah tokoh utama, gue enggak simpati siapa pun. Dan gue enggak pernah pengen jadi siapa pun. Sekali lagi gue akuin, di 5cm gue pernah berharap jadi sosok Genta. Di sini, gue main aman. Enggak berharap jadi siapa pun. Bukan tanpa alasan, gue hanya enggak nemu nilai plus yang plus dari karakter Bima, Amri atau Chandra.

Ketiganya manusia biasa yang memiliki kekurangan juga. Dan mungkin itu yang membuat gue hanya sebatas suka saja. Bahkan menurut gue, tokoh-tokoh itu kelewat biasa.

Versus mengajarkan arti sahabat sebenarnya. Dimana sedih, senang, duka, masalah, seharusnya mampu dibagi dengan sahabat yang mengaku benar-benar sahabat. Meski ada minus dari sahabat, selama kita bisa terima, itu bukan penghalang. Itu kekayaan diri yang mampu memandang perbedaan sebagai harapan.

Selama membaca novel ini, gue paling suka adegan pas adiknya si Amri yang kena sabetan linggis. Mengharukan. Oh ya, mungkin harus gue bilang juga kalau ini bukan tentang persahabatan aja. Tema keluarga juga masuk. Pelik seperti yang terjadi dengan Amri dan ayahnya, Bima dengan bapak-ibunya, juga Chandra dengan kedua orang tuanya.

Gue harus bilang kalau gue kurang suka sama covernya yang di mata gue absurd. Gue enggak nangkep maksud covernya itu.


Novel ini cukup menghibur buat gue. Bisa sih direkomendasikan.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar