[resensi novel] Cinta. (baca; cinta dengan titik)



Judul buku               : Cinta. (baca: cinta dengan titik)
Penulis                      : Bernard Batubara
Penerbit                    : Bukune
Terbit                         : -, 2013
Tebal buku               : vi+318 hlm
ISBN                          : 602-220-109-8


Bahwa hati tidak pernah keliru.
Bahwa cinta tidak pernah salah, Ibu.

Nessa punya cerita bukuk soal hubungan dan pernikahan. Cerminan apa yang terjadi pada ayah dan ibunya. Dan Nessa harus menjadi orang jahat saat keadaan mendesaknya dengan tanpa pilihan. Menjadi orang ketiga. Menjadi kekasih gelap. Nessa harus bediri di antara Demas dan Ivon. Di lain sisi, Endru yang dijodohkan dengan Nessa, perlahan-lahan mulai menaruh hati. Lalu bagaimana Nessa bersikap pada dua pria yang berdiri di depannya? Silakan baca!

Akhirnya kelar juga menyikat habis novel yang udah gue beli jaman kapan ini. Lega rasanya.

Ini novel pertama dari Bernard Batubara yang gue baca. Makanya saat memikirkan mau membandingkan novel ini dengan novel lainnya, rada susah juga. Jadi, tema perselingkuhan yang diangkat memang bukan tema baru yang gue baca. Gue pernah baca novel yang temanya serupa dan ending yang bahagia. Bicara ending, novel ini juga menyamakan hal itu. Dan tema novel Cinta. –tidak membuat gue kaku pas bacanya.

Di tengah membaca alur novel ini, gue sempat mikir, novel Bukune terasa rada puitis dengan kalimat narasi yang banyak dan panjang. Maaf ya kalo salah. Gue baru sadar setelah gue beberapa kali membaca novel-novel terbitannya. Tidak terkecuali dengan novel Bernard ini. Untuk menggambarkan sesuatu hal, bisa sampai satu paragraf untuk menjelaskannya. Dan ini membuat gue harus meloncat-loncat membacanya agar gue tidak kejebak bosan. Dan gue sanggup melakukan itu tanpa ada rasa kekurangan dalam memahami isi novelnya. Mungkin format begini akan jadi ciri khas penerbit Bukune. Dan flot untuk novel ini, gue suka. Maju ke depan dan kalau pun ada flshback, cukup dengan narasi saja.

Dari tokoh Nessa, Endru dan Demas, gue paling suka sama Endru. Meski bad boy, dia punya karakter yang kuat. Kalau suka bilang suka, kalau enggak bilang enggak dan kalau playboy ngaku playboy. Unik. Kalo Demas, gue enggak suka karena dia ini tipe pria yang kurang tegas meski di akhir cerita, ia pun bisa tegas. Tapi tetap saja, jarak waktu yang ia beri untuk Nessa, membuat gue sebal dan gemes dengan cara dia mencintai Nessa yang enggak ada kepastian. Nah, si cewek yang jadi idola Demas dan Endru, sumpah, gue gemes bukan main. Katanya cerdas, tapi memutuskan hal penting saja sampai kebablasan. Sayang banget kalo sampe punya pacar begini. Gue bakal jitak berkali-kali sebelum bilang putus!

Tegas, setia dan sungguh-sungguh dalam cinta, pesan ini yang gue tangkap setelah membaca tuntas. Tegas disini mengacu untuk tidak menggantungkan perasaan seseorang. Demas ahli nih dalam hal ini. Setia, tidak menduakan seseorang saat kita masih terikat. Demas juga mahir dengan menjadikan Nessa orang ketiga hingga Nessa bingung sendiri dengan perasaannya. Lalu sungguh-sungguh, sudah dibuktikan oleh Demas juga pas mau ending.

Sekarang soal cover novelnya. Gue suka. Enggak feminim, enggak macho. Netral. Dominan warna hitam dengan gambar-gambar dari kapur membuat cover ini berbeda dari yang lain. Yah, pencerahan untuk cover-cover keren.

Terus, Bernard ini punya gaya tulisan yang biasa aja. Lho, kok bisa? Ampun!! Maaf, gue enggak dapet hal khusus dari tulisan Bernard ini. Atau pendapat gue ini lantaran baru satu novel yang gue baca karyanya? Mungkin juga sih. Oke. Tapi gue harus jujur soal datarnya dia memberikan tulisannya. Gue enggak bisa bilang enak. Gue juga enggak bisa bilang enggak enak. Tapi gue masih penasaran dengan novel lainnya. Segimana khasnya Bernard Batubara ini, hehehe.




Share:

0 komentar:

Posting Komentar