#46 RESNOV

Charlie Si Jenius DunguDaniel Keyes
Ufuk Fiction
November 2012 (cetakan I, Edisi Terbaru)
978-602-9159-62-2



PS tolong jika kau sempat letakkan bunga di atas makam Algernon di halaman belakang. (kalimat terakhir novel Charlie – Daniel Keyes, hal. 456)

Gue sendiri tidak menyangka akan lulus membaca novel setebal ini. Semua berkat Charlie, pria berusia 32 tahun dan memiliki IQ rendah. Ia adalah tokoh utama si pembuat jurnal yang memaparkan kehidupannya.

Charlie yang dungu ternyata adalah objek penelitian Dr. Strauss dan Profesor Nemur. Dua orang ini yang mengharuskan Charlie datang ke lab untuk melakukan serangkaian tes hingga puncaknya ia dioperasi untuk meningkatkan kecerdasan.

Operasi ini sebelumnya sudah berhasil dilakukan pada tikus bernama Algernon. Lalu Dr. Strauss dan Profesor Nemur melanjutkan eksperimen ini kepada manusia. Charlie yang memiliki motivasi untuk bisa menjadi cerdas akhirnya terpilih menjadi orang pertama yang akan dioperasi.

Operasi kecerdasan ini berhasil. Kecerdasan Charlie meningkat secara perlahan. Seiring dengan berkembangnya kemampuan otaknya, Charlie juga mulai memahami semua masa lalunya. Dan sejak itu ia mulai dihantui mimpi-mimpi buruk masa lalunya.

Selain mimpi buruk, Charlie juga harus menghadapi perubahan lingkungan di sekitarnya. Yang paling jelas adalah lingkungan tempat ia bekerja, toko kue. Sebagian besar teman-temannya di sana menjauhi dan membenci perubahan Charlie. Hingga akhirnya, Pak Donner, pemilik toko kue, harus memecatnya.

Keberhasilan percobaan itu hanya bersifat sementara. Algernon pun tidak bertahan lama hingga akhirnya mati.

Bagaimana serunya kisah anak dungu menjadi jenius seperti Charlie ini?

Gue selalu saja menemukan dunia baru setiap selesai membaca novel karya penulis luar negeri. Ini karena tema dan plot yang diusung novel luar negeri selalu saja bervariasi dan unik. Novel ini pun mengangkat kehidupan orang terbelakang yang belum pernah diangkat menjadi novel di Indonesia. Sehingga mengikuti ceritanya, seperti sedang berpetualang di dunia entah berantah.

Dalam novel ini, ada 3 babak yang paling gue nikmati selama membacanya. Pertama, saat Charlie menjadi cerdas dan ia berusaha menyesuaikan diri dengan pengetahuan yang dirasanya sangat baru. Ada perjuangan keras yang dilakukan Charlie untuk akhirnya bisa memahami semua yang dulunya tidak ia ketahui. Gue menyebutnya prinsip anak kecil; rasa serba ingin tahu alias kepo.

Kedua, saat Charlie sudah cerdas dan memahami kecerdasannya bersifat sementara. Charlie mencoba memafaatkan waktu yang ia miliki sebelum kemunduran menyerang otaknya. Termasuk memahami cinta dan wanita. Juga ia memperbaiki hubungannya dengan ayah, ibu dan adiknya tanpa ada rasa benci dan dendam.

Ketiga, saat kecerdasaannya mulai mengalami kemunduran, gue melihat Charlie menyadari kalau ia tidak ingin kehilangan apa yang sudah ia punya dan ketahui. Ia pun berusaha keras untuk melawan kemunduran itu meski sadar kalau ia tidak bisa melawannya. Charlie memperbanyak membaca buku padahal semua yang ia baca akan ia lupakan dengan singkat. Ini adalah tiga babak yang paling berkesan buat gue.

Novel ini lebih menarik dengan ide penulis yang membuat ceritanya berupa jurnal kemajuan sang tokoh utama. Penggunaan POV orang pertama juga membuat pembaca (; saya) gampang menghayati semua emosi si Charlie. Rasa takut, rasa bodoh, rasa senang, rasa gugup, semuanya terasa begitu jelas.

Dan gue enggak bisa mengomentari typo dalam novel ini karena semua kesalahan penulisan kata adalah bagian dari ciri orang terbelakang. Gue juga tidak terasa terganggu dengan semua kesalahan itu. Justru semakin menimbulkan rasa simpati. Kok bisa ya begitu menderitanya orang terbelakang hingga untuk menulis saja sangat susah?

Mungkin yang sangat disayangkan banget adalah pemilihan cover yang terasa aneh. Wajah anak kecil itu menyeramkan dan terkesannya horror. Pokoknya tidak dramatis deh covernya.

Dan saat membuka situs milik Daniel Keyes; http://www.danielkeyesauthor.com/ gue diajak untuk menilik beberapa karyanya yang lain. Untuk novel ini saja, ternyata sudah banyak prestasinya. Gue jadi penasaran dengan novel-novelnya yang lain.







http://www.danielkeyesauthor.com/index.html
Yang penasaran kayak apa wajah Daniel Keyes, ini dia fotonya: 
http://www.danielkeyesauthor.com/dksbio.html
Oh ya, mulai resensi ini, gue akan selalu menempelkan kata ekspresi setelah membaca tuntas novelnya di akhir resensi.

“Mengagumkan. Ide yang tidak biasa menjadi cerita yang luar biasa”– adin dilla/bukuguebaca.blogspot.com


Share:

0 komentar:

Posting Komentar