#43 RESNOV

Montase
Windry Ramadhina
GagasMedia
2013 (cetakan keempat)
viii + 360 hlm
979-780-605-7


Ada yang berkata, sakura mengekspresikan ikatan antarmanusia seperti ikatan keluarga atau ikatan persahabatan, atau seperti ikatan yang muncul di antara kita, juga seperti ikatan yang kau dan orangtuaku ciptakan tanpa sengaja. (hal. 346)

Gue kira penggalan di atas merangkum cerita Montase secara utuh. Montase bukan tentang cinta saja, tapi menyentuh area keluarga dan persahabatan. Dan yang paling penting dari semuanya adalah tentang Impian.

“Selalu ada impian yang lebih besar dari impian lain, kan?...” (hal.250)

Alasan inilah yang kemudian membawa Haru Enomoto tiba di Indonesia untuk menikmati dua semester di IKJ (Institut Kesenian Jakarta). Kemudian di IKJ pula Haru mengenal sosok Rayyi atau lebih dikenal Bao-Bao yang pada akhirnya membuatnya bisa merasakan jatuh cinta. O ya, Haru ini gadis jepang lho.

Cerita dimulai dengan prolog Rayyi yang akhirnya datang ke Negeri Jepang dengan bekal surat dari Haru setelah dua tahun lamanya tidak ada kabar. Demi orang yang disayanginya, Rayyi melalui perjalanan ini dengan membawa harapan besar.

Kemudian cerita dilanjutkan oleh kekalahan Rayyi pada sebuah festival film dokumenter. Filmnya dikalahkan oleh film buatan Haru dan film itu hanya bercerita tentang Sakura. Setelah menonton filmnya, Rayyi mengakui kalau film itu memang berbeda meski sederhana. Di awal perkenalannya dengan Haru, Rayyi selalu merasa jengkel karena Haru tampaknya selalu membuatnya dalam masalah.

Rasa aneh itu datang saat Rayyi merekam Haru di sebuah Galeri Seni Rupa untuk tugas kelas Dokumenter IV yang didoseni oleh produser sekaligus sutradara film dokumenter terbaik Asia, Samuel Hardi. Rayyi merasa kemampuannya diremehkan Samuel Hardi dan saat filmnya diakui oleh Samuel Hardi, Rayyi tidak bisa menyembunyikan perasaan senangnya. Dan sejak itu, entah kekuatan magis apa yang membuat Rayyi selalu ingin dan suka merekam sosok Haru.

“Papaver Somniferum.”
“Candu : getah kering pahit berwarna cokelat kekuning-kuningan yang diambil dari buah papaver somniferum, dapat menimbulkan rasa ketagihan.”

Ketika hubungan mereka mulai menampakan kejelasan, Rayyi sangat memperhatikan Haru dan Haru akan salah tingkah saat diperhatikan Rayyi, yang namanya perpisahan tak bisa dihindari. Haru hanya mengiriminya sebuah pesan singkat.

Selamat tinggal, Rayyi. (hal.252)

Dan di bandara rahasia Haru terungkap. Selama ini ia menyembunyikan sakitnya agar bisa menikmati keindahan hidup.

“Aku punya penyakit. Bukan penyakit seperti anemia atau flu. Penyakit yang ini tidak memberi aku waktu yang cukup untuk melakukan banyak hal. Aku…mengidap kelainan darah. Leu…”
Leukimia

Haru sakit dan ia harus kembali ke Tokyo untuk menikmati keindahan hidup yang baginya waktu yang dia punyai tidak seberapa lama.

Kepergian Haru ke Tokyo menjadi babak baru dalam hidup Rayyi. Ia harus berjuang dengan impiannya menjadi pembuat film dokumenter di tengah kegundahan hatinya menahan rindu. Berhasilkah Rayyi melalui perjuangan impian dan cintanya?

Mengharukan. Kata ini buat gue tidak berlebihan untuk cerita apik yang dikemas Mbak Windry. Saat gue membacanya, ada beberapa adegan yang hampir membuat gue menitikan airmata. Bukan cengeng lho. Gue hanya menghayati kalimat pembangunannya dan itu berhasil.

Pertama; bisa dibaca di halaman 237 – 235, ketika sahabat Rayyi; Sube dan Andre, panik karena Rayyi akhirnya memutuskan untuk mengorbankan impiannya demi sang Ayah.

“Bule, lo nggak mengerti, ya? Dokumenter nggak pernah ada dalam daftar pilihan gue. Bokap gue Cuma mau satu. Gue mengikuti jejak dia, meneruskan bisnis perfilman Karya Karnaya.”
“Lalu, lo mau berhenti bikin film dokumenter?”
“Lo mau melepaskan hal yang paling lo suka di dunia ini?”

Kedua; saat Rayyi meyakinkan kalau impian ayahnya bukan bagian dari impiannya selama ini. Bisa dibaca di halaman 268.

“Percayalah, ini bukan keinginan sesaat. Bukan juga karena aku merindukan Mama. Ya, Mama yang menurunkan kecintaanya pada film dokumenter kepadaku. Tapi, setelah Mama pergi, aku mencintai film dokumenter dengan alasanku sendiri. Papa tahu apa yang kupikirkan setiap pagi ketika bangun tidur? Aku selalu berpikir ke mana aku akan membawa kameraku pagi hari ini dan kisah apa yang bisa kudokumentasikan di luar sana. Tahu film seperti apa yang ingin kubuat? Film seperti The Man with A Movie Camera.”

Hanya ada beberapa catatan yang menurut gue mengurangi kekaguman gue akan novel ini. Pertama, Mbak Windry mengambil POV orang pertama yaitu Rayyi. Dan rasa POV ini bukan rasa seperti laki-laki. Gue masih bisa merasakan jelas jiwa perempuannya. Gue tahu untuk mengambil peran yang berlainan gender bukan perkara mudah. Akan sangat butuh waktu lama untuk bisa mempelajarinya hingga seorang penulis bisa keluar dari zona Gender ini.

Kedua, alasan tidak terlalu logis kenapa Rayyi bisa sangat tidak menyukai Haru saat awal-awal perkenalan. Jelas sekali kalau kekacauan yang ditimbulkan Haru tidaklah begitu fatal. Kalau gue diposisi Rayyi, gue akan cuek dengan semua kegiatan Haru kalau memang gue tidak suka dengan tingkahnya. Nah, narasi di sinilah yang membuat gue merenung. Kok bisa Rayyi sangat menghindari Haru untuk alasan yang kurang jelas.

Di luar dari dua catatan gue, alur Montase karya Mbak Windry Ramadhina sangat menghibur dan membuat gue yakin kalau impian yang kita perjuangkan akan selalu membuahkan hasil. Terlepas hasil itu memuaskan kita atau tidak, tapi selalu ada imbas untuk semua bentuk usaha.

Gue akhirnya akan menunggu untuk membaca karya Mbak Windry lainnya; Orange, Metroplosi, Memori.


Share:

0 komentar:

Posting Komentar