#42 RESNOV


Antara Aku dan Dia
Agnes Jessica
Gramedia
April 2008 (cetakan kedua)
224 hlm
979-22-3362-8
Sasha, anak pengusaha kaya di Metro Lampung, lari dari rumah karena dipaksa menikah. Sultan, anak pegawai ayah Sasha yang berniat membunuh ayah gadis itu, terpaksa kabur karena akan dibunuh.

Karena suatu hal, mereka kabur bersama ke Jakarta. Tanpa terduga mereka terdampar di sisi gelap kehidupan metropolitan. Mereka berdua terjebak dan saling tergantung untuk bertahan hidup. Karena tiadanya uang, mereka terpaksa tinggal bersama dan mengaku sebagai kakak-adik, walau sebenarnya saling membenci.

Jakarta yang keras menekan mereka sampai batas kekuatan terakhir. Mampukah mereka bertahan di tengah godaan untuk dorongan mencari uang secara illegal? Apakah Sasha dapat bertahan, ataukah pulang dan menyerah untuk kembali ke sarang nyaman yang dihuninya selama ini?

Penggalan sinopsis yang tertulis di cover belakang cukup untuk menggambarkan secara garis besar jalan ceritanya. Ini tentang Sasha dan perjuangannya di Jakarta pasca ia kabur dari Lampung. Gue melihat jalan cerita yang cepat di novel ini. Semua informasi penting yang mendukung plot dipaparkan dengan paragraph narasi yang padat. Tidak ada adegan flashback.

Namun gaya penceritaan begini sangat sregg buat gue. Kesan saat selesai membacanya, novel ini tidak bertele-tele. Gue bahkan tidak perlu meloncat-loncat paragraph saat membacanya karena gue yakin dalam semua paragraph memiliki informasi penting yang enggak boleh dilewatkan. Berbeda dengan novel dari penerbit lainnya. Mungkin maksudnya ingin membuat cerita yang detail tapi terjebak pada narasi yang mempertebal halaman novel saja.
Hubungan antara Sasha dan Sultan selama di Jakarta sangat unik. Ini sebenarnya klise, dari benci jadi cinta. Tapi justru hal yang klise selalu menjadi luar biasa saat kita tepat mengemasnya. Dan novel Antara Aku dan Dia bisa menjadi contohnya. Klise tapi menarik.

Lalu banyak sekali pelajaran yang bisa diambil dari ceritanya. Ketahanan menghadapi situasi yang tidak sesuai perkiraan, memahami kemanusiaan dan tidak boleh berburuk sangka. Gue bahkan dibukakan pikiran mengenai latar belakang perempuan-perempuan yang berprofesi sebagai ‘Kupu-Kupu Malam’. Mungkin ada yang memang pilihan hidup tapi ada juga yang akibat keterpaksaan. Membayangkan mereka yang sudah tersuruk ke dunia gelap begitu, hati gue sedikit simpati. Sekejam itukah hidup?

Minus yang gue perhatikan dari seluruh cerita, mungkin pada deskripsi karakter setiap tokohnya. Gue bahkan tidak sanggup membayangkan Sasha dan Sultan itu wajahnya kayak siapa. Ini yang paling mengganggu. Kalau saja ceritanya tidak menarik, mungkin gue sudah menghentikan membaca novelnya. Makanya gue bersyukur alurnya masih bisa dinikmati.

Secara keseluruhan, novel ini layak dikoleksi. Dan berkat perkenalan ini, gue jadi pengen mengkoleksi karya Mbak Agnes Jessica yang lainnya.

Share:

0 komentar:

Posting Komentar