Hafalan Shalat Delisa - Tere Liye




Hafalan Shalat Delisa
Tere Liye
Republika
Februari 2011 (cetakan ketiga belas)
vi+270 hlm
978-979-3-2106-05
Semua urusan sudah usai (kalimat terakhir buku, hal.265)

Gue tidak akan pernah bosan membaca novel karya Tere Liye, seperti yang baru saja kelar, Hafalan Shalat Delisa. Ini kedua kalinya gue membaca novel ini dan sukses mengharukan seperti waktu pertama kali baca. 

Ini cerita tentang gadis kecil ceria dan riang bernama Delisa yang hidup bahagia bersama Umi, Kak Fatimah, Kak Zahra dan Kak Aisyah. Sedangkan Abi mereka bekerja sebagai mekanik/teknisi di sebuah kapal tanker dan mengharuskannya pulang ke rumah setiap 3 bulan sekali. Kebahagiaan Delisa membuncah menjelang tes hafalan shalat karena hadiah kalung yang dibeli Umi-nya di toko mas Koh Acan. Namun naas tak bisa ditampik, di tanggal 26 Desember 2004, tepatnya hari H tes tersebut, terjadi peristiwa yang mengharukan dunia, Tsunami Aceh. Bencana itu menyapu habis daerah Lhok Nga. Tubuh Delisa terbawa ombak, membentur pohon kelapa dan tergores banyak ranting. Kemudian tubuhnya menyangkut di semak-semak dengan luka parah. Kakinya robek, siku tangannya patah, giginya tanggal dua dan banyak luka lebam disekujur badan. Ia tidak berdaya dengan luka itu hingga berhari-hari terkena hujan dan terpanggang matahari. Sampai kemudian kekuatannya habis dan kesadarannya hilang, Delisa ditemukan oleh prajurit asing Smith. 

Abi yang sedang bekerja di laut segera pergi ke Aceh untuk mencari keluarganya. Namun saat ia tiba di Lhok Nga, kabar pedih yang ia dapati. Kak Fatimah, Kak Zahra dan Kak Aisyah sudah dikuburkan. Sedangkan Umi dan Delisa belum ada kabar. Sampai kemudian data Delisa masuk didata orang yang selamat, Abi Usman menemukan titik cerah pencariannya. 

Bagaimana Delisa menghadapi kehidupan pasca bencana itu?

Gue rasanya sudah terlalu sering memuji kemampuan Tere Liye dalam merajut kisah mengharukan. Tapi ini memang tidak berlebihan. Seorang Tere Liye bisa membawa kisah bencana yang sempat memilukan dunia menjadi cerita yang penuh dengan pesan manusiawi lewat tokoh Delisa. Pesannya kurang lebih tetap memandang indah bencana apapun sebab selalu ada hikmah dibaliknya.

Cover bukunya sangat keren. Sederhana sekali, dengan backround putih dan kumpulan kupu-kupu, membawa kesan kalau gambar itu dimaksudkan taman yang ada di depan gerbang ketika Delisa tidak sadarkan diri.

Tema buku ini menurut gue masuk kategori keluarga. Siapa saja bisa membaca buku ini dan akan cocok. Anak-anak bahkan akan lebih senang kalau cerita ini diceritakan ulang, bukan diminta membacanya karena jumlah halamannya yang terlalu tebal.

Sebagai informasi, novel ini juga sempat diangkat menjadi sebuah film drama dengan judul yang sama di tahun 2011. Dan film ini tidak kalah mengharukannya dengan cerita novel aslinya. Informasi film dapat dicek di sini.

Buku ini sangat cocok untuk yang mencari tema bukan romance dan penuh adegan haru biru. 


Share:

0 komentar:

Posting Komentar