Menjadi Kakak (Porcupine) - Meg Tilly

Menjadi Kakak (Porcupine)
Meg Tilly
Gramedia
April 2009 (cetakan kedua)
248 hlm
978-979-22-4164-8


Lalu landak itu berbalik dan, tanpa menoleh ke belakang lagi, berjalan ke pinggir hutan dan mengilang ke dalam semak-semak 
(kalimat terakhir novel, hal.242)

Begitu selesai membaca novel ini, gue merasa sangat terharu. Jalinan kisah 3 anak kecil luar biasa dalam novel ini bukan sekedar cerita hiburan yang membuat pembaca tersenyum tetapi membuat pembaca merenung dengan pertanyaan, sudahkah kita bertanggung jawab?

Penulis memakai tokoh Jacqueline atau biasa dipanggil Jack sebagai sentral cerita. Ia mempunyai 2 adik; Tessa berumur 10 tahun dan Simon berumur 7 tahun. Hidup Jack kecil mendadak berubah saat ayahnya meninggal ketika berdinas di Afganistan. Lalu ibu mereka membawa mereka ke rumah buyutnya di tempat yang jauh. Ibu mereka pergi ke kota meninggalkan tiga bocah bersama Gran dan sejak itu petualangan melintasi musim dimulai.
Fokus cerita berada di posisi Jack dengan umurnya yang masih sangat muda tapi harus menjadi dewasa untuk kedua adiknya yang masih kecil. Bukan hal mudah untuk memerankan peran itu mengingat seumuran dirinya, Jack merasa masih pantas untuk menikmati waktu bermain sepuas-puasnya. Namun keadaan membuatnya harus melakukan yang sebaliknya.

Buyutnya yang dari awal tidak akur dengan sang ibu, citra ini kemudian melekat di benak 3 bocah kecil yang kemudain mesti membantu pekerjaan rumah untuk membantu Gran. Perlahan, citra itu luntur dengan semakin tampaknya kalau Gran sebenarnya sangat menyayangi mereka.

Dua jempol tidak keberatan gue acungkan untuk Meg Tilly yang begitu hebat meramu kisah anak-anak penuh drama. Tokoh yang diciptakan pun sangat hidup. Gue sendiri suka dengan Jack yang dewasa, Tessa yang Drama Quenn dan Simon yang menggemaskan. Tabiat pada 3 tokoh tadi tidak terlalu dibuat-buat. Gue merasa mereka begitu nyata.

Untuk penerbitnya, terima kasih membawa Jack dalam novel teenlit yang begitu indah. Dibandingkan teenlit yang terbitan baru-baru ini, gue kira jenis teenlit dulu lebih bagus dan menghibur dar segi ceritanya. Tema yang diangkat dalam teenlit baru-baru ini didominasi oleh kisah percintaan remaja dan tema ini juga dilirik penerbit lain sehingga pembaca gampang merasa bosan.

Setelah membaca novel ini, gue jadi membandingkan dengan novel Bidadari-Bidadari Surga  (BBS) karya Tere Liye. Tema yang diangkat serupa, tentang tanggung jawab kakak pada adik-adiknya. Dan yang membuat saya memikirkan kesamaannya lagi adalah adanya adegan sang kakak menghadapi hewan buas. Di BBS, Kak Lais menghadapi harimau sedangkan di Menjadi Kakak ini, Jack harus berhadapan dengan ular derik.

Teenlit ini cocok untuk bacaan anak-anak dan remaja.


Share:

0 komentar:

Posting Komentar