MEMORI - WINDRY RAMADHINA

gambar diunduh ari www.gagasmedia.net

MEMORI
WINDRY RAMADHINA
GAGAS MEDIA

Cara terbaik menulis novel adalah harus menguasai isi novel yang akan dibuat. Windry Ramadhina menggunakan trik ini dalam novel Memori-nya. Latar belakang karakter tokoh utama dalam novel yang diwakili Mahoni dan Simon, sama-sama berprofesi sebagai arsitek. Persis dengan profesi penulisnya. Lalu hasilnya adalah novel yang begitu menarik dan enak dibaca.

Memori ini tentang Mahoni yang mempunyai hubungan tidak baik dengan kedua orang tuanya pasca perceraian. Mahoni membenci papanya lantaran merasa diabaikan setelah papa menemukan perempuan lain, Grace. Sedangkan mamanya yang sering disebut Mae selalu menarik Mahoni ke dalam cerita pilu dan mengenaskan soal hubungan laki-laki dan perempuan. Mahoni pun hijrah ke Virginia.

Kabar kecelakaan papa dan Grace, memaksa Mahoni kembali ke Jakarta dan ia pun harus menelan pahit kabar meninggalknya sang papa. Kepulangannya kali ini menghadirkan banyak kenangan yang membuat Mahoni ingin segera menghindarinya. Tapi Sigi, adik tirinya, menjadi alasan Mahoni harus terjebak di Jakarta lebih lama.

Selain kenangan keluarga, Mahoni pun kembali dipertemukan dengan Simon. Dia adalah masa lalu indahnya. Namun Mahoni tidak berani lancang menyulam kenangan manis itu karena Simon telah dipuja oleh rekan kerjanya di MOSS, Sofia. Kelebatan kenangan dan kenyataan silih berganti mengaduk perasaan Mahoni. Belum lagi karirnya di Virginia yang sedang sangat menjanjikan membuatnya berada dalam lingkaran dilema besar. Tapi semua dikembalikan oleh Mahoni pada tempat yang seharusnya sesuai kata hati.

Mungkin akan lebih bagus kalau penulis memberikan catatan kaki untuk istilah arsitek karena dunia arsitek belum menjadi hal umum. Ditambah, deskripsi ruang yang khas gaya arsitektur membuat blank bayangan. Entah gue yang awam banget atau memang gue lebih gampang membayangkan hal baru dengan analogi yang relevan.

Terus, alur yang dipakai penulis layak diacungi jempol. Ketika bagian flashback, penulisan kalimat langsung berbeda dengan bagian yang menceritakan masa kini, menggunakan tanda petik satu. Sehingga pembaca gampang membedakannya. Dan untuk emosi yang terbentuk, gue harus memberi rating 3,5 dari 5. Yang gue tangkap, emosi di Memori ini tidak meledak-ledak dan tidak datar juga. Naik turun tapi konstan. Hasilnya, gue bisa menikmati novel ini namun tidak memberi kesan mendalam.

Cover buku yang menampilkan piring jaman dulu dan dominasi kuning gading atau kuning apalah, menambah kesan kalau ini memang Memori betulan. Begitu sederhana dan teduh. Gue jadi ingat pola baju-baju ibu-ibu sekelas nenek gue yang penuh bunga. Tapi manis.

Novel ini direkomendasikan untuk pecinta kisah romantis.



Share:

0 komentar:

Posting Komentar