NEGERI 5 MENARA - AHMAD FUADI

diunduh dari www.gramediapustakautama.com, diedit sendiri
NEGERI 5 MENARA
AHMAD FUADI
GRAMEDIA

Banyak komentar manis untuk buku ini. Buat gue sendiri, dua jempol layak diberikan untuk kisah Alif Fikri. Menggugah dan menyemangati. Bukan perkara sepele menyampaikan pentingnya rajin belajar dalam sebuah cerita. Berkat pengalaman langsung Mas Ahmad Fuadi selaku penulisnya, novel ini sungguh menyentuh hati dan pesan tadi tersampaikan tepat sasaran.

Perjalanan Alif Fikri yang menginginkan masuk SMA Negeri dan bukan masuk pesantren menjadi awal baik membuka konflik. Pembaca diajak ikut memikirkan bagaimana rasanya menjalani sesuatu yang bukan pilihan kita sendiri. Pastinya kita akan melakukannya dengan setengah hati. Tapi setelah belajar selama 4 tahun di Pesantren Gontor, Alif menyadari kalau apa yang dipilihkan Amaknya (ibu) tidak salah. Di akhir cerita, Alif sangat ingin berterima kasih pada sang Amak.

Menceritakan rentang waktu 4 tahun terasa sangat panjang kalau penulis tidak cerdas dengan gaya bercerita. Namun Mas Fuadi dengan canggih memilih adegan atau peristiwa penting yang tentunya memiliki pesan. Dan buku pertama dari Trilogi Negeri 5 Menara ini, lebih mengupas kehidupan Alif di Pesantren Madani (PM).

Terpujilah sistem yang diterapkan di Pesantren Gontor dan gue berharap banyak sekolah negeri yang mengadopsi apa yang mereka lakukan dalam mendidik murid. Bukan sekedar memberikan ilmu, tapi murid harus memahami dan mengaplikasikannya. Cara menghukum, jadwal rutin, semua mengacu pada nilai kemanusiaan.

Untuk kisah mengharukan ini tidak terlepas pula jasa karakter teman-teman Alif yang kemudian mereka diberi julukan Sahibul Menara atau Pemilik Menara. Ada Atang, Baso, Said, Raja dan Dulmajid. Banyak peristiwa terekam dari tingkah polah mereka yang kadang membuat bangga, kesal, senang bahkan sedih.

Ada 2 adegan yang membuat gue mesti menyusut air mata :

1.       Saat Baso akhirnya memutuskan pulang meninggalkan PM (Pesantren Madani) padahal saat itu hanya tinggal hitungan bulan ia akan menghadapi ujian akhir. Baso memilih merawat neneknya yang sudah merawatnya sejak ia ditinggal oleh Ibu Bapaknya. Dan tidak ada yang lebih memilukan, mengharukan, menyedihkan daripada membaca adegan ini.

2.       Membaca surat yang dikirim Amak untuk Alif kala Alif gundah gulana terbakar iri ingin masuk Kuliah seperti teman kecilnya, Randai. Iri inilah yang kemudian memunculkan niatnya untuk ikut jejak Baso, meninggalkan PM. Bahasa surat seorang ibu yang memohon pada anaknya agar didengarkan. Mengharukan.


Akhirnya, novel ini sangat direkomendasikan dibaca oleh pelajar se-Indonesia. Maka lihatlah kepada diri sendiri, sudah cukupkah kita belajar saat ini?
Share:

0 komentar:

Posting Komentar