ALONE IN OTHER LAND - LIA I.A, FEI & ANDRY S.



ALONE IN OTHER LAND
LIA INDRA ANDRIANA, FEI & ANDRY SETIAWAN
PENERBIT HARU
NOVEMBER 2012
276 HALAMAN

Ini pengalaman pertama gue meresensi buku nonfiksi. Seperti sebuah tantangan dari se pemberi buku, Mbak Luckty ( http://luckty.wordpress.com ). Dan kedepannya, gue akan mencoba melakukan hal yang sama. Karena ternyata asyik juga membaca buku nonfiksi.

Lia Indra Andriana, Fei dan Andry Setiawan, bersama-sama merangkum kisah perjalanan mereka tinggal di luar negeri dalam Alone In Other Land. Lia menuju Seoul, Korea. Fei memilih Shanghai, China. Sedangkan Andry menunjuk Tokyo, Jepang, sebagai kota persinggahannya. Semuanya dilatarbelakangi untuk belajar. Dan ketika perjalanan berakhir, mereka memang menemukan arti belajar sesungguhnya.


Lia menuju Korea untuk belajar bahasa korea selama 3 bulan. Dimulai dengan mengurus administrasi pendaftaran pada Sungkyunwan University.  Ini memang bukan perjalanan pertama Lia di negeri ginseng ini. Sebelumnya ia pernah ke Korea juga sebagai wisatawan, bukan pelajar seperti tujuannya kali ini. Lalu selama di Korea, Lia menemukan banyak pelajaran yang tidak ada di bangku sekolah. Seperti bergunanya kalimat sapaan meskipun hanya sekedar ucapan ‘Halo’, pentingnya memuji dan arti kebersamaan. Alhasil 100 hari yang dilalui Lia meninggalkan kesan mendalam. Yang Lia dapat dari perjalanan ini adalah perubahan dirinya. Lia menilai dirinya sebagai orang yang pendiam. Tapi ketika perpisahan setelah 3 bulan berlalu, komentar wali kelasnya justru mengatakan kalau Lia bukanlah orang yang pendiam namun orang yang cerewet.

Percakapan singkat itu adalah awal sebuah pertemanan. Hal.29
Kalau kita takut melakukan kesalahan, selamanya kita akan berjalan di tempat. Hal.46
Mengenal diri sendiri memang tidak mudah, dan justru melalui interaksi dengan orang lain, kita dapat mengenal diri sendiri. Hal. 53
‘teman’ adalah kebutuhan primer manusia. Hal.65


Fei memilih China untuk belajar bahasa Mandarin. Tepatnya di Shanghai University of Finance and Economic. Kendala yang dihadapi Fei saat tiba di China adalah bahasa. Beruntung Fei memiliki sepupu yang selalu siap membantunya terutama untuk masalah menerjemahkan. Namun Fei sadar selamanya tidak mungkin bergantung pada orang lain. Mau tidak mau Fei pun mulai berjuang sendiri.

Fei belajar tentang kehidupan penduduk asli China. Ada banyak ilmu yang ia petik. Dan keuntungannya mengenal teman-teman dari beberapa negara membuatnya memahami keberagaman budaya. Selain belajar budaya, di tempat asing ini juga membuat Fei harus belajar memasak. Fei juga pernah mengalami kesialan ketika akan mengikuti tes Hanyu Shuiping Kaoshi (HSK), tes semacam TOEFL. Syarat mengikuti tes ini harus membawa paspor asli. Dan sialnya Fei meninggalkan paspornya di apartemen. Pengalaman seru juga dialami Fei ketika liburan natal. Ia dan Emiliy pergi ke Donghu, Danau Timur. Pengalaman berkesan terus dialami Fei. Bahkan ketika ia akan meninggalkan negara yang mengenalkannya pada pelajaran hidup baru itu.
Yang namanya manusia memang harus terus berusaha menangguhkan dirinya karena pada akhirnya kita tidak akan bisa terus terusan bergantung pada orang lain selain diri sendiri. Hal.134
Bukankah memang kadang kita butuh tantangan yang lebih besar supaya bisa berkembang? Hal.145
Memang ada hal-hal yang harus kita jalani, siap atau tidak. Waktu tidak pernah berhenti ataupun menunggu. Hal.175


Andry menunjuk Jepang sebagai negara tempat ia belajar. Di negara inilah Andry memulai langkah pertamanya meninggalkan zona nyaman yang selama ini membuainya. Keputusan yang berat namun ia kuat memegangnya. Andry juga akhirnya merasakan yang namanya bekerja sambilan. Ia bekerja di sebuah toko burger. Kebersamaan dengan pemilik dan pegawai lainnya membuat Andry merasakan memiliki keluarga baru.

Andry juga menambah pengalaman hidupnya dengan mengikuti International Camp yang diselenggarakan oleh Ikueikai, sebuah organisasi nirlaba yang memiliki visi menyelamatkan anak-anak yatim dengan jalan memberi mereka beasiswa. Di kegiatan ini emosi Andry seperti dibenturkan pada kenyataan pilu. Tapi setelah mengerti maknanya, Andry justru menganl makna tulus.

Kunjungan kedua Andry ke Jepang terjadi tahun 2012. Kali ini murni untuk jalan-jalan. Dan selama jalan-jalan ini pun Andry menemukan banyak pengalaman yang membuatnya berubah. Lebih banyak bercerita mengenai perkenalannya dengan orang-orang baru.

Persahabatan juga adalah sebuah suasana ketika kita bisa menjadi diri kita sendiri. Hal.207
Melupakan masa lalu dan lari dari masa lalu bukanlah cara yang tepat untuk membantu kita melupakan kesedihan yang ditinggalkannya. Hal.213

Membaca cerita tiga penulis ini membuat gue ikut ingin pergi melancong ke luar negeri dan menikmati pelajaran yang kemudian akan mengubah kita menjadi pribadi baru. Buku ini merupakan jurnal ketiga penulisnya dan akan sangat berguna banget untuk pembaca yang ada rencana pergi ke tiga negara; Korea, China dan Jepang. Informasi yang disampaikan begitu terasa mengena dan membuat gue sendiri seperti ikut menjadi teman perjalanan mereka.

Kelebihan buku ini bukan sekedar menceritakan perjalanan dan kehidupan penulis selama di luar negeri. Tapi bagusnya lagi, buku ini menyelipkan nilai-nilai moral yang kemudian bisa jadi bahan perenungan. Gue belajar banyak dari tiga penulis ini. Selain itu di akhir buku ditambahkan informasi mengenai ketiga negara yang dibahas. Informasi ini sangat membantu mengenalkan negara tadi.

Kalau diurutkan dari pengalaman ketiga penulis ini yang paling menarik adalah Lia, Andry dan Fei. Pengalaman Lia begitu mengharukan. Kedekatannya dengan teman kursusnya sangat mengena hati. Sedangkan pengalaman Andry, gue menikmatinya ketika perjalanannya yang kedua kali. Tipe pendiam ini yang membuat gue bercermin. Apalagi saat Andry bercerita mengenai susahnya untuk mengatakan ‘Hai’ pada orang baru selama diperjalanan. Gue bangetlah. Lalu kenapa Fei ada diurutan ketiga? Bukan tidak menarik hanya menurut gue kurang personal aja. Fei bercerita mengenai bagaimana dia menikmati negara itu. Gue tidak menangkap emosi yang dalam yang membuat gue bisa belajar banyak dari pengalamannya.

Bicara tentang buku ini, gue sempat terkecoh dengan covernya. Gue kira ini novel. Pas dibuka ternyata kisah perjalanan. Menurut gue lebih baik covernya menggunakan foto asli dari ketiga negara yang ditumpuk dengan menonjolkan lokasi utama perjalanan ketiga penulis. Cover yang sekarang terlalu manis untuk buku perjalanan.

Akhirnya, buku ini direkomendasikan untuk mereka yang mengaku traveler sejati.

:D :D :D



Share:

2 komentar:

  1. Yay, udah diresensi, makasih yaaa... ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Terima kasih juga sudah mengenalkan saya pada buku nonfiksi yang asyik, heheh :D

      Hapus