ILANA - T. SANDI SITUMORANG


ILANA
T. SANDI SITUMORANG
MEDIA PRESSINDO
TAHUN 2012

Seru. Itulah kata yang kemudian terlintas ketika saya menyelesaikan halaman terakhir novel Ilana – T. Sandi Situmorang. Padahal, ini pun kali kedua saya membaca novel yang diterbitkan penerbit Media Pressindo.

Ilana adalah nama tokoh utamanya. Dia anak bungsu dari keluarga kaya raya di Medan. Punya dua kakak; Bram dan Prast, yang bertindak sudah seperti bodyguard. Pas kelas satu SMA. Ilana suka banget sama cowok seangkatannya, Arfan. Sayang banget, hubungan keduanya tidak mulus lantaran Arfan bukan anak dari orang kaya. Percintaan mereka pun dipisahkan keadaan. Ini bagian menggelikan sebenarnya. Saya bingung, kok karakter Arfan harus menjadi pengamen di sela-sela sekolahnya. Padahal Arfan itu udah gede, pola pikirnya bukan lagi anak-anak. Rada tidak masuk akal saja. Saya lebih suka Arfan menjadi tukang cuci di kafe atau karyawan di bengkel. Lebih realistis aja kalau dibayangin.

Empat tahun kemudian, saat Ilana sudah masuk kuliah, ia harus menghadapi perjodohan dengan anak salah satu rekan bisnis papanya. Cowok itu bernama Jerry. Bagian seru dari novel ini pun dimulai. Perjodohan yang tidak bisa diterima oleh Ilana menjadi perjuangan Jerry untuk mengubah perasaan Ilana akan cinta pertamanya dahulu.

Tema percintaan dan menyambung ke perjodohan membuat Ilana menjadi bacaan yang menggemaskan. Bukan apa-apa, karakter Ilana yang tidak berdaya dengan rencana perjodohannya, sangat membuat saya greget. Apa tidak ada jiwa brandal sedikitpun di jiwa Ilana? Sehingga memungkinkan ia menolak rencana itu. Bukannya anak zaman sekarang suka banget berontak. Bahkan untuk menolak hal yang tidak disukai, kadang-kadang membuat anak masa kini sering minggat. Tapi meskipun adanya begitu, saya menyukai ceritanya.

Ditambah plotnya yang mengalir, membuat saya terus merasa penasaran dengan ending-nya (maklum, rada-rada lupa ending-nya). Dan kalau membicarakan ending-nya, saya sempat membuat catatan singkat. Ending Ilana kurang greget. Harusnya ada bagian yang menceritakan pertemuan Ilana dan Arfan di taman dekat sekolah SMA mereka dahulu. Bukan langsung ke keputusan final sehingga mengurangi rasa bagaimana Ilana menjadi bijaksana.

Untuk cetakannya, ada beberapa yang perlu dikoreksi.

“….Apalagi sampe pacaran. (hal.38) – Kurang tanda kutipan langsung (“)
“….Aku tidak ingin membenarkan tuduhan abangmu. (hal.42) - Kurang tanda kutipan langsung (“)
4 tahun kemudian (hal.66), ….ternyata kebersamaan nya di Tuk Tuk tiga tahun lalu… (hal.69) – saya bingung sama keterangan waktunya
Pertunya – Perutnya (hal.165)
…mercy (hal.216) – Mercy, huruf besar untuk nama orang
Ilana menatap Mercy,… (hal.244) – Padahal mereka sedang bertelepon, kok bisa ada kalimat saling menatap, aneh

Keseluruhan, novel ini mengingatkan kita untuk tidak terpaku pada masa lalu. Pesannya, jleb banget lah.

“Padahal masa lalu hanyalah sejarah. Jangan selalu berharap ia kembali. Bisa saja tidak lagi indah jika dibawa ke masa kini. Karena ia sudah usang. Yang ada sekarang, jauh lebih memesona.” (hal.247)



Share:

2 komentar:

  1. Kirain tadi karya Ilana Tan, hahahahah... baca blog ini bawaannya kepengen ngeborong toko buku terus....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ternyata judul bukunya. Hehehe. Sebenarnya buku2 saya banyak yang lama2. Maklum, telat kenal blog bukunya. Tapi seru kok baca ulang juga.

      Hapus