INTERLUDE - WINDRY RAMADHINA


INTERLUDE
WINDRY RAMADHINA
GAGAS MEDIA
2014

Ceritanya berani. Berani yang saya maksud bukan vulgar gimana gitu. Tapi membahas korban perkosaan menjadi loncatan hebat dari penerbit gagasmedia melalui Interlude ini. Tema yang tidak biasa. Ya, ini tentang Hanna yang pernah diperkosa dan kemudian berusaha memulai kembali kehidupannya. Terapi yang ia jalani memang membuatnya berubah. Tapi terapi tidak menghilangkan traumanya.

Hanna kemudian bertemu dengan cowok ‘bad boy’ Kai yang notabene anak band. Bad boy-nya Kai memiliki alasan masa lalu yang kelam.

“Jadi untuk apa aku peduli? Aku tidak diinginkan. Di dunia ini tidak ada tempat untukku. Dan, semua tidak penting. Keluarga, musik, kuliah. Tidak penting. Perempuan juga. Aku tidak bisa serius dengan perempuan. Aku tidak percaya dengan hubungan.” Hal. 176

Pertemuan tak disengaja tapi membuat Hanna ketakutan, menambah rasa penasaran Kai pada sosok Hanna ini. Yang sangat disayangkan, penggambaran cerita Kai di sini masih kurang straight. Mungkin karena bahasa novel gagas media yang mendayu-dayu, membuat sosok Kai menjelma menjadi sosok pria versi perempuan. Penulis rasanya belum menemukan rasa yang kuat untuk menciptakan sosok Kai yang ‘cowok banget’.

“Kalau begitu, biar aku jadi lautmu.” Tangan Kai terulur untuk Hanna. “Aku akan membantumu meluruhkan semua cela itu.” Hal.195.

Persinggungan antara Kai dan Hanna terasa sangat manis. Dari yang tidak saling kenal, pernah ada salah paham, lalu jatuh cinta, rumit menjadi kekasih, sangat indah dipaparkan penulis dan menggoda. Ala drama bangetlah dan memang enak banget diikuti. Namun kok saya justru lebih suka bagian konfliknya Gitta sama Ian.

Yap, Gitta ini teman bandnya Kai dan Jun. Saat band mereka mau merilis single bersama studio musik besar sekelas Sony Music, band mereka ‘Second Day Charm’butuh seorang drummer. Gitta memilih Ian. Saat penilaian kemampuan Ian, Kai sedang larut dengan masalah keluarganya sehingga tidak bisa member suara untuk memilih Ian. Jun yang memutuskan untuk menerima Ian di band mereka meskipun keputusannya itu hanya setengah hati. Ia cemburu pada Ian karena dia yang saat itu berada di samping Gitta.

Hanna dan Jun kemudian mendapati  banyak memar di tubuh Gitta. Setiap kali ditanya penyebabnya, Gitta hanya menjawab kalau itu luka jatuh atau kebentur. Ini babak menegangkan dari semua kisah Interlude. Penasaran bagaimana Gitta menghadapi Ian yang sering melukainya secara fisik. Padahal sosok Gitta ini di awal cerita digambarkan sangat kuat, ceria. Tapi begitu ada konflik dengan Ian, Gitta berubah jadi gadis yang rapuh dan pasrah.


Keseluruhan, saya menyukai jalan ceritanya. Dan saya pengen denger lagunya Second Day Chram yang ‘Hanna’. Pastinya akan sangat memukau.
Share:

4 komentar:

  1. Aku belum pernah baca tulisan Windry... tapi banyak yg bilang tulisannya bagus.
    Aku jadi penasaran :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Coba deh, Mbak, pasti suka. Habis cara berceritanya sangat mengalir banget.

      Hapus
  2. weeh, iya sih, kalo untuk ukuran cowok bad boy anak band, bahasanya kok terlalu puitis ya. hehehe... meski tema ceritanya sepertinya cukup menarik...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin karena penulisnya cewek, jadi belum total bisa melepaskan bahasa ceweknya, hehe

      Hapus