MERAH JINGGA LANGIT AMSTERDAM


MERAH JINGGA LANGIT AMSTERDAM
SANDRA D.
GRAMEDIA
JUNI 2014

Akhir-akhir ini saya sedang menggandrungi novel yang tokohnya sudah dewasa. Bukan anak SMA yang dari dialognya saja sudah sangat lebai. Pilihan saya berikutnya jatuh pada Merah Jingga Langit Amsterdam – Sandra D. Saya terpikat pada cover-nya yang super romantis akibat dominasi warna orange yang menunjukkan warna senja. Dan mungkin akibat sisa cerita Mencarimu – Retni S. B. yang masih meninggalkan kesan terutama untuk gaya cerita dan plot ala orang-orang dewasa.

MJLA berkisah tentang Kania yang kemudian diterima bekerja di sebuah perusahaan kotraktor sebagai asisten direktur. Bayangan direktur di mata Kania adalah pria tambun, bulat. Tapi begitu melihatnya, Kania sangat terkejut.
Bos barunya seorang lelaki muda yang menarik, bahkan sangat menarik. Rambut hitamnya tersisir rapi dengan model yang keren. (hal.14)
Cerita dengan tema percintaan dewasa di MJLA ini hampir umum. Kania akhirnya menyukai bosnya itu tapi tidak tahu cara mengungkapkannya. Yang menarik dari ceritanya adalah bagaimana antara Kania dan Adrian memendam rasa yang sebenarnya mereka sama-sama tahu. Bahkan saya kadang merasa gemas. Kok mereka bersikap seperti anak SMA saja, malu-malu kucing.
“Adrian, biarkan semuanya seperti seharusnya. Kamu ada di tempatmu, dan aku akan berada di tempatku. Dan semuanya akan baik-baik saja.” (hal.128)
Tokoh yang muncul sepanjang novel ini hampir didominasi Kania dan Adrian. Entah kenapa mereka berdua memiliki porsi lebih banyak seakan di-setting untuk selalu berdekatan. Ini yang bagi saya terasa aneh. Dan akhirnya membuat sedikit tidak menarik karena kelihatan sekali plotnya dipaksakan. Dimana ada Kania, pasti bersinggungan dengan Adrian.

Karakter Kania dan Adrian juga tidak begitu mencolok. Mereka termasuk tipe romantis dan tidak ada hal unik dari karakternya sehingga buat saya Kania dan Adrian berada di karakter aman-aman saja. Memperhatikan mereka kelamaan, mungkin akan terjebak pada efek bosan.

Plotnya juga aman. Penulis tidak mau mengambil hal luar biasa yang bisa dikemas romantis. Contohnya, kegiatan Kania dan Adrian hanya di sekitar makan, jalan-jalan, dan ngobrol berduaan. Tidak ada kegiatan romantis baru yang bisa dicontek untuk dipakai di dunia nyata. Dan ketika setting cerita pindah ke Belanda, saya seperti sedang melihat serial luar negeri seperti Marimar dan Amigos. Serial yang mengumbar keromantisan tapi tidak memiliki hal yang membuat saya bergumam, ‘oh’.

Kalau bicara typo, ada beberapa sih, tapi tidak terlalu mengganggu.
Menlepon – Menelepon (hal.56)
Diilai – Dinilai (hal.158)

Keseluruhan, novel ini sangat manis buat penyuka bacaan cinta-cintaan.
Share:

2 komentar:

  1. Sepertinya buku satu ini cukup menarik ceritanya. Jadi pengen baca! :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seru kok, silakan berburu di toko buku terdekat anda, hehe

      Hapus