REMEMBER DHAKA - DY LUNALY


REMEMBER DHAKA
DY LUNALY
BENTANG BELIA
2013

Dad’s money can buy anything. (hal.6)

Ini adalah pernyataan sekaligus pikiran sempit seorang Juna soal hidupnya. Cowok yang baru lulus dari SMA ini, masih berpikir ingin melanjutkan senang-senang seperti biasanya. Lulus dari sekolah seperti kebebasan mutlak dari hal yang paling tidak ia sukai, B-E-L-A-J-A-R.

Gara-gara nilainya yang nyaris tidak meluluskannya, Agni sebagai kakaknya berkonspirasi dengan sang Papa untuk mengirim Juna ke Dhaka menjadi volunteer trip. Perjalanan menjadi relawan di tempat yang Juna sendiri tidak tahu, membuatnya marah. Tapi tidak ada pilihan lain. Berbekal perjanjian tidak tertulis dengan Papanya, Juna berangkat juga ke Dhaka.

Perjalanan sebulan selama di Dhaka membuka mata hatinya yang selama ini keliru. Bersama volunteer lainnya; Emma, Patrick, Thomas, Daisy, Lee dan David, Juna menemukan banyak pelajaran hidup yang tidak pernah diajarkan di bangku sekolah.

Setelah lama tidak membaca buku, saya akhirnya memutuskan untuk memulai semangat baca dengan judul Remember Dhaka karya Dy Lunaly. Saya sudah lama mengenal buku ini di rak buku gramedia, tapi waktu itu belum ada kesempatan yang membuat saya harus membelinya. Dan pas bukabuku.com memampang promo belia yang diskonnya gila-gilaan, saya pun membuat akun dan melakukan transaksi saat itu juga. Ada 9 buku yang saya pilih. Tapi saya memulainya dari buku ini.

Awalnya saya kira Dhaka adalah nama orang. Tapi setelah membaca beberapa bab, saya paham, Dhaka ternyata ibukota negara Bangladesh. Menariknya buku ini terletak dari bagaimana penulis menggambarkan keadaan dan situasi. Saya sampai membayangkan keruwten sebuah tempat yang bising dengan bunyi klakson dan bagaimana kumuhnya negara India dan Bangladesh.

Secara alur, novel ini bisa dibilang mengambil alur cepat dan dengan kasus atau konflik yang nggak begitu berat. Kategori bacaan ringan menurut saya. Dan keunggulan dalam mendekripsikan lokasi dan situasi itu yang membuatnya unggul meski dengan minim konflik. Selain itu, Remember Dhaka juga bagus menjadi pelajaran hidup buat anak muda sekarang yang sudah mulai mendewakan uang. Ternyata ada banyak sudut pandang dalam melihat arti uang. Di novel ini, pembaca disuguhkan jawabannya lewat sosok Juna.

Untuk karakter di dalam novel ini, saya tidak menangkap nilai istimewa. Meskipun sosok Juna sangat vokal dalam semua bab. Tokoh utamanya memang disetting begitu dan sosok lainnya juga punya porsi yang pas untuk menyeimbangkan tokoh utamanya. Hanya yang membuat saya sedikit kecewa, karakter Juna ini masih terasa seperti perempuan.  Mungkin dari pola kalimat untuk menggambarkannya yang masih feminim. Saya tidak menangkap sosok Juna ini remaja yang ugal-ugalan, nakal. Ini dikarenakan penulisnya seorang perempuan sehingga rasa prianya masih kurang. Karakter yang ada juga dibuat sangat muda. Makanya saya bilang buku ini cocok jadi bacaan anak remaja.

Keunggulan lainnya, novel ini memuat banyak pesan yang disisipkan di dialog. Bisa dialog Juna  dan Kak Agni, bisa dialog Juna dan Emma dan bisa juga di dialog Juna dan salah satu temannya. Bahkan ketika saya membaca beberapa dialognya, hampir saja luruh airmata. Teramat dramatis dan memang bener banget apa yang disampaikan. Kerenlah untuk pesan moralnya.

Kalau dari segi kover buku, cukup manislah. Dua sosok gajah kertas cukup memberi bocoran ada apa di dalam Remember Dhaka.

Selama membaca novel ini saya tadinya kurang perhatian sama typo. Tapi pas ke belakang, saya menemukan juga meski tidak mengganggu saya membaacanya.

Aku dam Emma – dan (hal.92)

Saya merekomendasikan novel ini untuk yang menyukai bacaan perjalanan dan yang sedang mencari pelajaran hidup.

Penutup, saya kutipkan kalimat keren di dalam novel ini.

“Hidup ini selalu tentang mengeja Ikhlas. Bagaimana kita belajar untuk ikhlas menerima kondisi apa pun yang ada dalam hidup kita” (hal.99)
Share:

0 komentar:

Posting Komentar