HUJAN DAN CERITA KITA - STEPHIE ANINDITA


HUJAN DAN CERITA KITA
STEPHIE ANINDITA
BENTANG PUSTAKA
2014

“Echa, hujan!” Aku memanggil nama itu, menoleh, melihatnya, dan seketika tubuhku membeku.  Hujan yang menderas, tapi hatiku kian panas. Aku berdiri kaku, mengepalkan tangan, mencoba untuk menghilangkan gemetar tubuh yang aku yakin tidak ada hubungannya dengan udara dingin. Ya Tuhan...buat apa aku diundang ke sini? Untuk menyaksikan mereka bersama dan membiarkan hatiku terhempas bersama hujan. Bagus...ternyata begini rasanya menjadi pacar tak dianggap. Lantas apa gunanya segala pengorbananku kepadanya selama ini, kalau dia meninggalkanku di bawah hujan? Sendirian.

Setelah (Bukan) Salah Waktu-nya Nastiti Denny dan Sequence-nya Shita Hapsari, kali ini saya baru menyelesaikan lagi novel Hujan Dan Cerita Kita-nya Stephie Anindita yang berlabel Pemenang 3 Lomba Novel “Wanita Dalam Cerita” yang diprakarsai penerbit Bentang Pustaka. Rupanya, novel ini pun mengikuti pakem lomba dengan menghadirkan cerita kehidupan wanita dan di HDCK, penulis memperkenalkan sosok Sylvania Adriana. Dia seorang perempuan muda yang sedang menjadi koas di Rumah Sakit Cahaya Harapan.

Membaca novel dengan label tadi, saya bisa menangkap kesamaan dari tiga novel yang sudah saya baca, selain tokoh utamanya perempuan, yaitu pikiran dewasa. Ide yang dilempar di tiga novel itu, bukan ide yang mehek-mehek dan lebay, melainkan ide yang biasa muncul di kalangan orang dewasa meskipun tokoh utama perempuan yang hadir tidak berstatus menikah. Oke, mungkin di BSW ada Sekar yang sudah menikah, di Sequence ada Klarisa yang lajang, Ine dan Yuni sudah menikah; Sequence menceritakan 3 tokoh wanita seligus. Lalu di novel HDKC tokoh Vania belum menikah. Meski demikian, cerita yang dihadirkan bukan cerita yang rumit. Membaca novel ini seperti mempelajari arti hubungan dua anak manusia yang mengaku disihir cinta dan mempelajari peliknya cinta.

HDCK bercerita tentang Vania yang kembali dipertemukan dengan teman pria masa kecilnya, Reza atau Echa. Reza yang masa kecilnya selalu dibully, bermetamorfosis menjadi idola dan menyandang nama panggung Leo Andromeda. Pertemuan itu menumbuhkan benih harapan di hati Vania. Namun kenyataan berkata lain. Vania pun diperkenalkan dengan dua wanita teman Reza selama di Singapura, Pandora dan Helen.

Pandora adalah sosok wanita yang disukai Echa. Saat Echa dan Pandora pacaran, hati Vania terluka. Hubungan mereka tidak lama. Ada kendala yang mengharuskan hubungan mereka berakhir. Di saat kekosongan hati Echa, Vania dikukuhkan menjadi pacar Echa. Hubungan yang terjalin romantis sebelum mereka pacaran, tidak terjadi saat mereka pacaran. Vania cemburu dengan kedekatan Echa dan Helen. Dan dugaannya benar, Echa dan Helen juga ada apa-apa.

Selain bercerita tentang percintaan Vania, novel ini juga mengupas kehidupan Vania selama menjadi koas di rumah sakit. Beberapa istilah medis diperkenalkan dan menurut saya porsinya pas. Tidak membuat pusing dengan istilah yang kerap kali sangat asing.

Selama di rumah sakit, Vania menjadi sosok yang tangguh dan mandiri. Ketika ada tugas kelompok, Vania harus sekelompok dengan Kak Anggita, perempuan yang tengah hamil enam bulna, dan tugas yang mereka jalani harus kacau saat Kak Anggita mendadak bermasalah dengan kehamilannya. Namun selama Kak Anggita tidak bisa melakukan tugasnya, Vania mampu mengendalikannya meskipun ia harus dibentak atas ketelatannya. Dan tentu saja berkat banyak bantuan, Vania mampu menyelesaikan koasnya dengan baik.
Ending novel ini benar-benar di luar dugaan. Meskipun sosok pangeran yang kemudian menjadi sesuatu Vania beberapa kali muncul, saya tidak menyangka penulis akan membawa kepadanya. Penulis berhasil membuat plot yang apik dengan tidak memberi jeda untuk menerka akan kemana lari dari sosok Vania ini. Sebab Vania dan Echa sudah sangat romantis dan cocok.

Novel yang dibalur romantis tidak lepas dari adegan yang manis atau mengharukan. Buat saya, dari keseluruhan novel HDCK ini, adegan di halaman 233 yang cukup berkesan. Saat Vania sangat kecewa karena yang ditarik dan dilindungi Echa begitu hujan turun bukan dirinya, melainkan Helen.

Aku langsung berlari menembus hujan. Tepat saat air mataku sudah tidak bisa kutahan. (hal.233)

Saya sangat bisa membayangkan bagaimana kalutnya hati Vania dengan perlakuan Echa yang tidak 
menganggapnya penting. Menyedihkan sekali.

Dari segi kover dengan gambar payung terbalik dan latar belakang gradasi warna biru yang seperti tetesan hujan, membuat tampilan novel ini sangat teduh dan membuat penasaran. Mungkin yang perlu diperbaiki adalah huruf nama penulis yang menurut saya menjadi samar atau tidak jelas karena ukurannya yang kecil dan tipis, lalu ditempatkan di posisi yang gradasinya lumayan ramai.


Secara keseluruhan, saya rekomendasikan novel ini untuk pecinta kisah romantis yang dewasa, atau kalian yang masih belum move on dengan mantan yang jelas-jelas pilihan yang salah.
Share:

2 komentar:

  1. Wah terima kasih resensinya Adin :D senang banget kamu suka cerita perjalanan cintanya Vania^^dapat salam dari Vania (^^)V hehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam balik ya. Dan bilangin juga, jangan nyari pria kayak Echa, suka PHP in aja ...hehehe

      Hapus