COTTON CANDY LOVE - PRISCILA STEVANNI

Entah kenapa, kejadian sembilan tahun silam itu terus teringat di kepalaku. Kamu, kepolosanmu, dan gula kapas di tanganmu. Seakan ini sudah diatur, kebetulan yang telah ditakdirkan. Aku bertemu lagi denganmu, dengan segala perubahan. Kita sama sekali berbeda, tak lagi seperti dulu yang lucu dan lugu.
Perpisahan meninggalkan kenangan …
Lalu, sebuah pertemuan yang manis, menyenangkan, tapi singkat. Sama seperti potongan gula kapas yang meleleh dalam mulut.

Judul: Cotton Candy Love; Pangeran Gula Kapas dan Putri Balerina
Penulis: Priscila Stevanni
Penyunting: Ikhdah Henny
Perancang sampul: Nocturvis
Ilustrasi sampul & isi: Nocturvis
Pemeriksa aksara: Intan
Penata aksara: Gabriel
Penerbit: Bentang Belia (PT Bentang Pustaka)
Terbit: Cetakan pertama, Januari 2013
Halaman: viii + 244 hlm
ISBN: 9786029397727

Lumayan lama untuk akhirnya saya bisa kembali membaca hingga tuntas satu novel dan niat banget membuat resensinya. Sebenarnya kalau membaca masih rutin dan saya sudah menyelesaikan beberapa novel, namun untuk membuat resensinya, saya benar-benar menyerah. Mendadak kesulitan merangkai kata.

Lalu kali ini pilihan saya jatuh pada novel Cotton Candy Love garapan Priscila Stevanni.

Karena novel ini masuk lini Bentang Pustaka di Bentang Belia-nya, sudah bisa ditebak pembaca akan disuguhkan apa. Bentang Belia memang menggarap tema cerita yang remaja banget. Dan di Cotton Candy Love ini, rasa remaja itu sangat kental terasa.

Cerita dibuka dengan adegan pertemuan Sessa dan Ezra di sebuah acara ketika mereka masih kecil. Pertemuan yang singkat tapi cukup membekas untuk kedua tokoh tersebut. Dan mulai dari prolog inilah saya bisa menerka cerita akan dibawa kemana. Bisa dibilang plotnya sudah sangat umum, pertemuan waktu kecil – terpisah – ketemu lagi pas remaja – jatuh cinta. Tidak ada yang istimewa dari plotnya. Saya menuntaskan novel ini atas rasa penasaran apakah akan ada kejutan lain. Sayang, sampai di kalimat terakhir, saya tidak menemukan apa yang saya tunggu.

Setting-nya kebanyakan di lingkungan sekolah. Dan mungkin dengan genre remaja ini, penulis membuat banyak konflik yang kebanyakan muncul di sekolah. Pembaca, terutama yang masih sekolah, akan mendapatkan banyak inspirasi kegiatan-kegiatan seru yang bisa dilaksanakan di sekolah.

Karena setting-nya yang di sekolah, mau tidak mau penulis harus memasukan banyak karakter pendukung. Dan karena banyaknya karakter pendukung, saya merasa sangat terganggu ketika harus mengingat dan membayangkan setiap karakter yang muncul. Mungkin disinilah letak kesulitan penulis untuk tidak mengecoh pembaca dengan karakter pendukung. Dan memang pekerjaan yang tidak mudah memuaskan pembaca dengan tokoh utama sedangkan karakter pendukung memang harus dihadirkan.

Untuk karakter Sessa, saya sedikit harus mengernyitkan dahi karena heran. Tokoh Sessa sangat hero banget untuk teman-temannya. Dia seperti pahlawan yang memang ditakdirkan untuk membantu teman-teman sekolahnya. Meskipun diceritakan pula lubang perusak kesempurnaan karakter Sessa yang membuatnya terlihat manusia biasa juga. Tapi pergulatan konflik lebih dominan pada permasalahan yang dialami teman-temannya sehingga kekurangan dari Sessa sendiri tidak membantunya kelihatan manusia.

Kalau Ezra, awalnya saya suka dengan gayanya yang cool dan pendiam. Tapi makin ke belakang, Ezra makin bawel. Langsung membuat rasa suka saya pada karakter Ezra ini meluncur turun drastis. Kehidupan keluarga yang membuatnya menjadi sangat pendiam, serta merta berubah dalam hitungan waktu singkat hanya gara-gara bertemu dengan Sessa. Bagi saya ini sangat ganjil. Harusnya, penulis tetap mempertahankan karakter Ezra seperti di awal namun dengan sentuhan simpati dan empati.

Akhirnya, novel ini sangat cocok dibaca oleh pembaca anak sekolah. Menginspirasi sekali.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar