BEFORE US - ROBIN WIJAYA

Kau adalah tamu tak diundang. Datang tanpa pemberitahuan, memaksa masuk ke ruang hati setelah bertahun-tahun tanpa kabar. Aku merindukanmu, tulismu di e-mail terakhir. Bahkan setelah tahu aku bersamanya pun, masih saja kau lancing mengulangi hal yang sama.

Kau tahu, aku tak bisa lolos dengan mudah dari jerat-jerat cerita kita yang tak pernah benar-benar selesai. Kau bilang tak perlu ada yang berubah-tapi, kenapa aku merasa semkain jauh darinya, terseret arus yang membawaku ke pelukanmu?

Kau harus pergi, begitu inginku. Tapi suaraku terlalu gemetar dan terlalu takut untuk terdengar tegas di hadapanmu. Bagaimana kau bisa sampai ada di situasi ini, terperangkap perasaanku sendiri? Disudutkan dilemma yang melibatkan kau dan dirinya? Sebelum aku berhasil menemukan jawabannya, aku kemudian tersadar…

Judul buku: Before Us
Penulis: Robin Wijaya
Editor: Della
Proofreader: Resita Wahyu Febriratri & Christian Simamora
Penata letak: Wahyu Suwarni
Desainer cover: Jeffri Fernando
Penerbit: Gagas Media
Terbit: 2012
Tebal: vi+298 hlm
ISBN: 9797805409
Status buku: Pinjam



Before Us, sebenarnya novel dari Robin Wijaya yang pernah saya tahu keberadaannya sudah lama. Tapi yang pernah say abaca lebih dulu justru novelnya yang lain, Versus. Pada waktu itu saya belum tertarik untuk memiliki dan membacanya karena alasan nama Robin Wijaya belum begitu lekat dibenak saya dibandingkan nama Dee (Dewi Lestari) dan Winna Efendi.

Namun, saya diperkenalkan oleh teman kantor pada novel ini dan saya justru merasa beruntung akhirnya bisa membaca novel ini. Alasannya, pertama, tema novel ini sangat antimainstream karena tidak semua penulis mau menuliskannya. Tema besarnya di LGBT; gay. Kedua, banyak sekali pelajaran tentang kehidupan rumah tangga dan saya sebagai pembaca bisa memetik pengalaman atas konflik rumah tangga yang diceritakan Mas Robin melalui tokoh Agil, Radith, Ranti dan Winnie. Saya kira dua alasan barusan cukup untuk menjadi alasan kenapa novel ini menarik dibaca.

Singkatnya, Before Us bercerita tentang Agil yang menikah dengan Ranti dan kemudian Agil bertemu dengan orang dari masa lalu. Pertemuan ini memunculkan kisah baru yang jelas-jelas seharusnya tidak terjadi. Karena pada akhirnya, hubungan mereka yang salah memberikan efek buruk pada hubungan normal mereka masing-masing.

Di awal membaca prolog sebagai pembuka novel, saya sempat terkecoh. Sebab saya menangkap kalau cerita di BU (Before Us) mengenai sepasang suami istri dan selingkuhannya. Tidak terlintas akan kemungkinan cerita cinta pasangan gay.
“Siapa yang mengusulkan ini?” tanyaku kembali.“Radith sendiri yang minta.”“Tidak. Aku tidak setuju.”“Sudah diputuskan.”“Aku tidak berada di sini saat keputusan itu diambil.”“Apa kami perlu minta pendapatmu dulu.”“Ya. Aku berhak.”“Aku istrinya.”“Aku sahabatnya. Orang yang tahu banyak tentang Radith.”

Meski pelik dengan hubungan pasangan gay, Mas Robin mengeksekusi cerita dengan keputusan yang sangat baik dan sebagai pembaca saya sangat mendukung tokoh Agil. Hubungan mereka salah, dan tidak pernah akan ada celah untuk kesalahan agar bertahan di tatanan kebenaran di masyarakat. Akhirnya, mau tidak mau, kesalahan itu mesti dibenarkan.

Yang sedikit mengganjal dan kurang sreg, justru terletak pada penokohan Agil yang menurut saya masih terasa feminim. Latar belakang tokoh Agil diceritakan terlihat maskulin dan enggak ada potongan kalau dia gay. Sehingga setiap diksi yang ada di novel mengenai Agil layaknya untuk tokoh perempuan. Kecuali kalau penulis sedikit menambahkan sedikit gestur Agil yang kemayu. Di samping karakter Agil, saya merasakan tokoh lainnya sangat hidup. Saya bisa memahami perasaan Ranti dan Winnie yang diposisikan sebagai istri yang terkhianati dengan orientasi suaminya. Miris keadaan mereka sangat terasa. Saya salut dengan Mas Robin atas penggambarannya yang sangat nyata.

Kover kecenya sudah cukup mengangkat keseluruhan cerita. Penikmat buku tidak akan dibuat bingung dengan pemilihan kover yang bergambar cincin perkawinan dengan batu permata yang lepas. Menarik sekali.


Akhirnya, novel ini cocok menjadi jeda kalau pecinta buku merasa sudah sangat bosan dengan tema cinta-cintaan dewasa yang sudah sangat umum. Pembaca akan dipertemukan dengan kehidupan yang tidak biasa.
Share:

2 komentar: