Have A Little Faith - Mitch Albom

Kisah ini diawali dengan permintaan yang tidak biasa dari seorang rabi tua dari kampung halaman Albom, yang memintanya memberikan eulogi pada hari pemakamannya kelak. Demi mengenal lebih dekat rabi tua itu, Albom mulai mengunjunginya; kunjungan yang membawanya ke dunia religious yang telah ia tinggalkan bertahun-tahun lalu. Sementara itu, ia juga terlibat dalam karya kemanusiaan seorang pastur Detroit-bekas pengedar narkoba, pemabuk, sekaligus narapidana yang telah bertobat-yang memberikan pelayanan bagi orang-orang miskin dan gelandangan di sebuah gereja tua yang bobrok.

Mondar mandir di antara dua dunia: Afro-Amerika dan kulit putih, kemelaratan dan keberlimpahan, ia melihat bagaimana dua orang yang sangat berbeda ini sama-sama bekerja berdasarkan keyakinan mereka demi keselamatan. Bersama keduanya, ia mengeksplorasi masalah-masalah yang membelit manusia modern: bagaimana bertahan di saat berbagai kesulitan mendera, apakah surge itu sungguh ada, perkawinan campur, pengampunan, keraguan akan Tuhan, dan pentingnya iman dalam masa penuh percobaan.

Di luar perbedaan yang ada, ia mulai menemukan suatu kesatuan yang mencengangkan di antara dua dunia itu, dan tentunya juga antara berbagai keyakinan di mana pun. Ia akhirnya memahami apa yang telah diajarkan kedua lelaki itu: penghiburan Ilahi karena percaya kepada sesuatu yang lebih besar daripada diri kita.



Judul buku: Have A Little Faith (Sadarlah)
Penulis: Mitch Albom
Alih bahasa: Rani R. Moediarta
Desain sampul: Subhani Sarkar
Tata letak: Ryan Pradana
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Juni 2014; cetakan ketiga
ISBN: 9786020306575
Status buku: Milik sendiri

Secara garis besar ceritanya tentang si penulis yang dimintai untuk berkhotbah oleh seorang petinggi agama Yahudi; Albert Lewis, ketika ia meninggal nanti. Permintaan ini membawa si penulis pada diskusi tentang keyakinan. Pertemuan-pertemuan yang mengharuskan si penulis memahami sang Reb kalau Sang Reb juga manusia biasa. Selain dengan sang Reb, Mitch pun berkenalan dengan petinggi pastur; Henry Covington.

Tema agama dan keyakinan yang diusung novel ini sebenarnya hal baru untuk saya karena keyakinan yang dipaparkan adalah Yahudi. Selama ini, kalau pun saya membaca novel religi, itu tentang keyakinan saya; agama islam. Makanya saya bingung ketika akan mengatakan kalau apa yang disampaikan novel ini bagus. Bukan berarti saya membenarkan agama Yahudi itu benar (membenarkan keyakinan lain bertentangan dengan keyakinan saya). Bagus di sini lebih kepada pesan moralnya.

Di novel ini sarat banget pesan moral yang dipaparkan melalui diskusi antara Mitch dan dua nara sumbernya; Albert Lewis dan Henry Covington. Berbagai diskusi dipaparkan dengan sangat mengena, tentang agama, tentang perang, tentang kaya, tentang perkawinan, tentang surga. Saya pun akhirnya memahami mengenai kesederhanaan hidup yang kelak akan membawa pada kedamaian kebahagiaan.

Dari segi gaya bercerita, novel ini sangat baik dalam pemilihan diksi. Beda sekali dengan salah satu penerbit nasional yang berkecimpung di novel romantis yang gaya bahasanya sangat halus dan banyak sekali kalimat pendukung yang kadang membuat saya harus melompatinya sebab membosankan. Mungkin perlu dicatat, gaya penulisan seperti novel inilah yang akan efektif menyampaikan pesan cerita tanpa harus bertele-tele.

Oya, biar pun pandangan yang berbeda, pembaca akan dibawa pada jawaban tentang banyak hal dan saya pun harus mengakui kalau itu masuk akal. Terutama mengenai eksistensi Tuhan. Saya sampai terkesima ketika membaca bagian itu. Jawaban yang cukup telak. Pembaca diajarkan bijak dalam memahami banyak pandangan. Bahkan, perbedaan agama seharusnya tidak menjadi alasan untuk berperang. Bagi sang Reb, manusia dengan manusia lainnya adalah keluarga.

Buku ini sangat cocok menjadi mereka yang mencari pengajaran kebijakan mengenai hidup. Tidak akan menyesal.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar