Rindu - Tere Liye

“Apalah arti memiliki, ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami?

Apalah arti kehilangan, ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan, dan sebaliknya, kehilangan banyak pula saat menemukan?

Apalah arti cinta, ketika kami menangis terluka atas perasaan yang seharusnya indah? Bagaimana mungkin, kami terduduk patah hati atas sesuatu yang seharusnya suci dan tidak menuntut apa pun?

Wahai, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan? Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu? Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja.”

Ini adalah kisah tentang masa lalu yang memilukan. Tentang kebencian kepada seseorang yang seharusnya disayangi. Tentang kehilangan kekasih hati. Tentang cinta sejati. Tentang kemunafikan. Lima kisah dalam sebuah perjalanan panjang kerinduan.



Judul buku: Rindu
Penulis: Tere Liye
Editor: Andriyati
Cover: EMTE
Layout: Alfian
Penerbit: Republika Penerbit
Terbit: November 2014 (cetakan IV)
Tebal: ii + 544 hlm
ISBN: 9786028997904

Saya memang menyukai novel-novel karya Tere Liye. Tapi begitu melihat betapa tebalnya novel terbarunya ini, saya sempat menunda untuk memilikinya. Dalih, saya takut bosan membaca dan novel ini akan terabaikan seperti beberapa novel tebal lainnya. Namun dorongan kuat akhirnya membuat saya mendatangi toko buku Gramedia dan mencomot judul ini.

Dugaan saya keliru. Setelah mulai dibaca, saya seperti tidak mau lepas. Ceritanya menarik. Alhasil, saya menamatkan novel tebal ini dalam kurun dua hari. Menarik yang saya maksud memang sedikit bias. Jujur, saya tidak menyukai novel sejarah. Dan latar novel Rindu ini jelas-jelas berkaitan erat dengan sejarah negeri tercinta; Republik Indonesia. Tahun 1938, tahun dimana pemberontakan dengan penjajah Belanda masih genjar dilangsungkan.

Rindu pun menyisipkan banyak informasi sejarah. Tentang banyak bangunan yang dibuat oleh pasukan belanda, kejadian pengasingan pejuang Indonesia hingga kondisi Indonesia pada tahun itu. Namun dengan apik, penulis membuat informasi sejarah tadi tidak merusak rasa novelnya.

Tema novel ini komplek. Ada tema agama, tema keluarga, tema perjuangan hingga tema percintaan. Meskipun banyak tema dicampur jadi satu judul, saya harus mengatakan kalau novel ini sukses memikat. Secara garis besar, Rindu mengisahkan lima pertanyaan dari lima orang yang melakukan perjalanan haji dengan sebuah kapal besar, Kapal Blitar Holand. Pertanyaan seperti apa yang muncul? Bukan pertanyaan biasa. Pertanyaan tentang hidup yang kadang memang harus ditanyakan kepada yang memahami hidup.

Karakter yang muncul dalam novel Rindu ini, semuanya menarik dan beragam. Ada dua karakter favorit saya; Ambo Uleng dan Anna. Ambo Uleng digambarkan sosok pemuda dua puluhan tahun yang memutuskan menjadi kelasi di Kapal Blitar Holand dalam rangka melarikan diri dari sesuatu. Dia pendiam tapi dibeberapa kesempatan, Ambo menjadi pemuda yang terang seperti rembulan, persis seperti makna namanya.

Anna, gadis kecil Sembilan tahun yang suka ceplas-ceplos dan riang. Perannya membuat tema serius dalam novel ini menjadi ringan untuk diikuti. Banyak sekali tingkah polahnya yang membuat saya tersenyum sepanjang membaca novel ini.

Ada kesamaan antara novel Tere Liye lainnya dengan novel ini, memiliki banyak pesan moral. Saya harus mengatakan, tidak akan rugi membaca novel ini. Pembaca akan menemukan banyak pemahaman baru mengenai hidup.

Novel ini pas dibaca sebagai pengingat dan bahan renungan untuk yang masih galau.

Share:

0 komentar:

Posting Komentar