Blue Heaven - Mahir Pradana

Mari, luangkan waktu sejenak dan dengarkan kisahku… kisah tentang sebuah tempat.

Bagimu, mungkin tempat ini tidak istimewa, namun coba renungkan sejenak.

Apakah kau ingat atapnya yang mengajarkan makna kenyamanan dan perlindungan?

Apakah kau ingat dindingnya yangs erupa sebuah pelukan hangat saat kau bahagia atau bahkan saat lelah.

Apakah kau ingat lantainya yang selalu kokoh menopangmu saat yang lain berputar terlalu cepat?

Dan…ini yang terpenting…apakah kau ingat pintunya? Pintu selalu terbuka lebar dan menyambutmu pulang, saat kau sudah lelah menantang dunia.

Ini adalah cerita empat bersaudara keluarga Arizki, yang menempuh perjalanan hidup sebagai orang dewasa sepeninggal almarhum ayah mereka. Sejauh apa pun jarang yang mereka jalani, pulang selalu menjadi tujuan akhir.

After all, family is the one that show you that you’re not alone in this world…



Judul buku: Blue Heaven
Penulis: Mahir Pradana ( @maheeer )
Editor: Heri Purwoko
Proof reader: Dewi Fita
Desain sampul: Dwi Annisa Anindhika
Tata letak: Erina Puspitasari
Penerbit: Rak buku
Terbit: Mei 2014
Tebal buku: iv + 203 hlm
ISBN: 6027114010

Ini pengalaman kedua saya membaca karya Mahir Pradana setelah novel Rhapsody. Dan kalau saya harus memilih bagusan mana antara Blue Heaven dan Rhapsody, saya memilih novel Rhapsody.

Secara garis besar, Blue Heaven bercerita tentang empat bersaudara; Riyaz, Raisa, Rafi dan Rayden, dengan konflik yang muncul dalam diri mereka masing-masing. Seharusnya menarik cerita ini diulas. Tapi karena fokus cerita harus dibagi pada keempat orang tadi, saya tidak menemukan karakter favorit di sini.

Plot yang digunakan penulis adalah plot mundur. Hampir semua bab mengisahkan masa lalu. Dan plot seperti ini rada kurang nyaman buat saya. Mungkin karena tiap mengalami “kemunduran” cerita, saya tidak mendapatkan kesan yang dalam. Secara dalam flashback itu, cerita dibuat singkat. Alhasil, cerita atau konflik yang ada harus kehilangan rasa.

Gaya bahasa juga tidak begitu mengalir. Pemilihan diksinya masih kaku untuk selera saya. Sehingga proses menyelesaikan novel ini lumayan menyita banyak energi.

Terlepas dari kekurangan tadi, saya juga dibuat haru ketika Rayden atau Dede dan Santi dibuat takut akan bom yang dikirim oleh oknum tertentu. Bukan soal percintaan saja yang ada saat adegan ini, tapi juga soal keluarga. Saya benar-benar merasa terharu bagaimana sayangnya ketiga kakaknya Rayden ketika mengingat kejadian bom tadi.

Buku ini pas banget dibaca buat para Kakak agar menjadi kakak yang baik dan bertanggung jawab.
Share:

6 komentar:

  1. Wah kebetulan saya juga menjabat sebagai seorang kakak dikeluarga. Nanti mau cari bukunya ahh. Oh iya, baru pertama kali main kesini nih. Salam kenal ya. \:D/

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal balik. :) wah, pas buat belajar menjadi kakak yang baik nih..

      Hapus
  2. Pas. Gua juga seorang kakak. Lebih tepatnya dianggap kakak sama gebetan. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cie..cie...kakak sama gebetan? Wah, bentuk hubungan yang unik....

      Hapus
  3. saya malah blum pernah baca karya mahir pradana...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harus baca pokoknya. Dan nanti boleh diskusi soal novel ini, hehe

      Hapus