Malaikat - Agung Rusmana

“Kesempatan kedua enggak bisa jamin seseorang jadi lebih baik. Kesempatan kedua Cuma akan melahirkan kesempatan ketiga, keempat, kelima, dan seterusnya.” Ujar Arga.

“Kesempatan terakhir?” Tanya Abith.

“Semeseta enggak mungkin membiarkan kita bersama sejauh ini untuk dipisahkan. Aku nggak peduli. Kalau kamu mau jadi pendamping hidup di sisa hidup aku ke depan, apa yang di belakang enggak lagi penting untuk aku.” Malaikat itu akhirnya menemukan gandum-nya.


Judul buku: Malaikat
Penulis: Agung Rusmana ( @arusioso )
Editor: Afrianty Pardede
Ilustrator: Pramaditya Andhika Widi
Penerbit: Elex Media Komputindo
Terbit: 2014
Tebal buku: Viii + 320 hlm
ISBN: 9786020248400

Saking kerennya novel Malaikat ini, saya sampai membacanya hingga dua kali. Tujuannya agar apa yang disampaikan penulis bisa saya pahami. Dan memang benar, meski kali kedua membacanya, saya tidak merasa bosan dengan ceritanya.

Alasannya, cerita Malaikat ini sangat super. Dimana semua adegan bukan rekaan yang penuh drama. Terlebih temanya yang persahabatan dikemas dengan sangat maksimal dan berbeda dari novel lainnya. Karakter yang tampil juga bukan karakter normal pada umumnya. Ada nggak yang kepikiran bikin novel romantis dengan tokoh gigolo? Ada, ya ini, novel Malaikat. Saya saja sampai takjub dengan cara bagaimana penulis membentuk tokoh Agra sang gigolo dan Abith sang remaja mau dewasa yang masih ababil.

Gaya penulis membuat dialog juga sangat baik. Diksinya enak. Ya kayak ngomong ngobrol biasa aja. Ada kan novel yang dialognya kelewat drama dan kalau membaca novel jenis begitu, saya kadang akan mengikuti dialog tersebut dengan suara nyaring. Lalu saya akan malu sendiri, nggak alami banget.

Terus yang membuat novel ini sangat menarik adalah sifat tokoh-tokohnya. Agra dan Abith briliant banget. Tapi dari dua tokoh utama ini, saya paling suka sama Agra. Pembawaannya dewasa, dan jalan pikirannya sangat sederhana tapi berprinsip.

Bocoran aja ya, novel ini dibagi jadi 2 chapter. Chapter pertama, perjalanan Agra menemukan ‘gandum’nya yang sudah pernah ia lewatkan. Chapter kedua, keputusan besar Abith menuju kehidupan yang baru dengan orang tersayangnya.

Pesan moral di novel ini banyak banget dan disampaikan dengan cerdas melalui dialog yang apik. Novel ini setara dengan novel karya Dee, cerdas, berbobot. Cocok dibaca buat pecinta novel dan jangan sampai melewatkan Malaikat
Share:

4 komentar:

  1. waah bukunya bagus tuh :)
    jadi pengen eumz,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harus punya, keren banget pokoknya

      Hapus
  2. Halo Bung Adin!

    Terima kasih sudah baca Malaikat, ya!
    Semoga ada yang bisa dinikmati dan dihikmati.

    Salam,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama Bang. Ditunnggu novel selanjutnya

      Hapus