Islammu adalah Maharku by Ario Muhammad


Judul buku: Islammu adalah Maharku
Penulis: Ario Muhammad
Editor: Pradita Seti Rahayu
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Terbit: 2015
ISBN: 9786020267999


Islammu adalah Maharku merupakan novel yang saya pilih karena penulisnya laki-laki. Ekspektasi saya tinggi sekali sebab pernah ada pengalaman membaca novel yang penulisnya laki-laki, dan kesannya sangat baik. Saya menyebutkan novel itu sebagai bacaan paling menyenangkan. Terlepas dari genre novel ini yang berbeda dengan novel menyenangkan itu. Sebab novel Islammu adalah Maharku masuk golongan novel islami. Berbeda dengan novel yang saya bandingkan yang bergenre novel metropop.

Sebenarnya apapun genre novel, selama pengerjaannya dilakukan dengan memperhatikan unsur-unsur pembangun novel agar menjadi menarik, hasilnya novel tersebut akan diingat pembacanya. Membaca novel Islammu adalah Maharku mengingatkan saya pada saat membaca novel religi Teatrikal Hati. Sama-sama enak dinikmati lantaran diksi yang digunakan indah, sederhana dan kena sasaran. Sehingga pembaca tidak merasa jemu mengikuti cerita di dalamnya.

Islammu adalah Maharku bercerita perjalanan keislaman seorang profesor muda di Taiwan: profesor Chen. Motif pria ini berislam sebenarnya sudah sangat sering diangkat di novel-novel religi lain, ingin menikahi seorang muslimah. Dan dimulailah perjalanan profesor muda ini dalam mendalami islam.

Ada dua karakter utama di novel ini. Syakila, gadis dari Indonesia yang ditakdirkan meneruskan S2 di Taiwan. Dia menjadi titik awal bagi si profesor muda mengenal islam. Profesor Chen, profesor muda yang tidak beragama tapi mempercayai tuhan. Pernah patah hati karena perempuan yang tinggal bersamanya tidak menghendaki membangun keluarga dan tidak ada keinginan memiliki anak. Pertemuannya dengan mahasiswi bimbingannya menghapus rasa patah hati itu dan menumbuhkan harapan baru.

Saya sangat terkesan dengan proses keislaman profesor Chen. Pergolakan batin saat ingin berislam sangat menyentuh emosi saya. Dan novel ini sangat layak dibaca oleh siapa pun sebab tidak menggurui.

Yang saya sayangkan adalah pertemuan profesor Chen dengan tiga mualaf lainnya untuk berdiskusi, seharusnya dikemas denga  lebih detail. Perjalanan mualaf tersebut sebaiknya dibuat menjadi bab masing- masing. Sebab cerita mualaf ini yang akan menambah wawasan pembaca kenapa islam bisa sangat indah. Apa yang dinarasikan lewat dialog singkat antara profesor Chen dengan para mualaf itu, bagi saya sangat tanggung dan emosi yang disampaikan penulis ke pembaca sangat tanggung. Andai hal ini dibenahi, akan banyak pembaca yang menitikan air mata dengan keislamannya para mualaf.

Ada hal paling mengena dari novel ini yaitu ketika Syakila bertanya tentang bagaimana profesor Chen bisa lulus master dan PhD dalam kurun waktu singkat. "Jika kamu disiplin bekerja sesuai targetmu, segala prestasi yang kamu harapkan akan kamu bisa raih. Orang pintar di dunia ini sangat banyak. Tapi yang benar-benar gigih dan tekun sangatlah sedikit..."

Pokoknya, novel ini sangat membangun jiwa akan islam. Pembaca akan diingatkan sudah seberapa islamkah kita?


Share:

0 komentar:

Posting Komentar