[Resensi] Salon Tua by Christina Juzwar

Judul: Salon Tua
Penulis: Christina Juzwar
Penyunting: Pratiwi Utami & Dila Maretihaqsari
Penerbit: Bentang Belia (PT Bentang Pustaka)
Terbit: Mei 2015
Tebal buku: iv + 228 hlm
ISBN: 9786021383513
Versi: Ebook


Terima kasih Bentang Pustaka sudah memberikan ebook ini secara cuma-cuma yang saya download di PlayBooks. Alhasil bacaan saya mulai beragam baik secara genre maupun versi bacaan. Dan ini pertama kalinya saya bisa selesaikan membaca buku digital.

Salon Tua merupakan lini Darklit yang diluncurkan oleh Bentang Belia. Kesan kelam, horor, hantu, sangat terasa di novel ini. Bercerita tentang Elena dan mamanya; Clara, yang mulai menempati sebuah rumah tua di daerah Bogor. Selain tua, rumah tersebut juga menakutkan. Usut punya usut, rumah itu punya kisah menakutkan dua puluh tahun yang lalu. Kisah detailnya tidak mungkin saya bocorkan disini. Clue-nya, ada kebakaran dan pembunuhan. Elena dan mamanya kemudian menghadapi kejadian aneh  selama di rumah itu. Sebenarnya yang paling sering diganggu hantu adalah Elena.

Karena ini pertama kalinya saya membaca novel hantu, saya merasa penulis sukses membuat pembaca (saya) ikut ketakutan selama mengikuti kejadian horor yang dialami Elena. Misteri pembunuhan tiga orang yang terjadi setelah Elena dan mamanya tinggal di rumah itu jadi tanda tanya yang membuat saya ingin segera menyelesaikan sampai lembar terakhir. Tokoh lainnya yang hadir di novel ini seperti Lintang, Bintang, Angela dan Aldo pernah saya tebak sebagai pelaku pembunuhan. Dan saya beneran baru tahu pelakunya ketika mencapai lembar-lembar penutup.

Apa seremnya novel ini? Pertama, kemunculan hantu di ceritakan sangat pas. Diksi yang digunakan penulis tidak bertele-tele dan lugas. Tidak membuat saya bingung selama membayangkan visualnya.

Kedua, rumah tua bekas salon dengan lantai duanya yang beralas kayu dan  masih berbau lembab membuat saya begidik merinding. Bayangkan kalau beneran kita mendengar suara gesekan di lantai kayu pada tengah malam. Memancing pengen teriak minta tolong. Ditambah beberapa kali bau amis menyengat menjadi bau rumah. Arrrggghhh serem.

Ketiga, pembunuhan dengan cara dikuliti rambutnya yang kemudian kepalanya dibakar. Jahat sekali bukan motif begini. Motif ini yang kemudian membuat saya tambah penasaran mengenai siapa pelakunya.

Selain mengangkat kisah horor, novel ini juga menceritakan konflik keluarga dan percintaan. Konflik keluarga diwakilkan oleh cerita perselingkuhan papanya Elena yang berakhir perceraian hingga pengusiran Elena dan mamanya. Saya tidak menyangka penulis akan menyelipkan kasus berat begini di tengah misteri rumah angker. Porsinya sangat bagus sehingga kasus ini tidak mengubah fokus inti cerita. Horor tetap horor.Konflik ini menambah kelam di sisi yang lain.

Percintaan diurai dari perasaan Elena terhadap Aldo, salah satu teman kampusnya. Meski nanggung akhir percintaan Elena dan Aldo, saya cukup terhibur dengan percikan api asmara yang timbul di antara mereka. Anggap saja jeda untuk saya bernafas dari rasa penasaran dan merinding akan hantu yang muncul.

Yang lebih membuat saya kaget adalah ending ceritanya. Bagi saya mengecewakan. Bukan kecewa karena tidak puas tapi saya inginnya Elena tersenyum setelah melewati malam yang klimaks mengerikan berdarah-darah. Kemudian saya perlu memberikan 2 jempol untuk penulis karena eksekusi cerita yang nampol.

Untuk sampulnya cukup menyeramkan meski bagi saya full kartun membuat hawa seramnya turun sedikit. Kalau seandainya gambar di rubah dengan gambar asli yang penuh bercak darah, novel ini sukses akan membuat tidak berani tidur sendiri.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar